Ledakan Beirut: PM Lebanon nyatakan pemerintah mundur di tengah ‘malapetaka besar, keruntuhan ekonomi dan sosial’

Ledakan Beirut: PM Lebanon nyatakan pemerintah mundur di tengah 'malapetaka besar, keruntuhan ekonomi dan sosial'

Keterangan gambar,

Hassan Diab mengumumkan pengunduran diri kabinet dalam pidato yang disiarkan secara langsung.

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab telah mengumumkan bahwa segenap anggota kabinet mengundurkan diri ketika negara itu mengalami apa yang ia sebut sebagai malapetaka besar dan keruntuhan ekonomi serta sosial.

Ia mengumumkan keputusan itu pada Senin malam waktu setempat (10/08) di tengah kemarahan rakyat yang memuncak atas ledakan di ibu kota Lebanon, Beirut, Selasa lalu.

“Saya hari ini menyatakan pemerintah mengundurkan diri. Semoga Tuhan menyelamatkan Lebanon, Dirgahayu Lebanon dan rakyatnya,” kata Diab dalam pidato yang disiarkan langsung lewat televisi.

“Hari ini kami menuruti kehendak rakyat untuk meminta pertanggungjawaban kepada mereka yang bertanggung jawab atas bencana yang tersembunyi selama tujuh tahun ini, dan keinginan mereka untuk mewujudkan perubahan,” tambah Diab.

Pengumuman dikeluarkan setelah digelar rapat darurat. Usai rapat dan pengumuman pembubaran kabinet, mantan Menteri Kehakiman, Marie-Claude Najem, mengatakan pengunduran diri ini tidak dapat ditafsirkan sebagai tindakan melarikan diri dari tanggung jawab.

“Cobalah memahami posisi kami.Tak seorang pun ingin berkuasa dengan keadaan seperti ini, ketika kami mengalami semua masalah: keruntuhan keuangan, virus corona, inilah bencana nasional yang kami alami.

“Jadi, tolong jangan diartikan ini sebagai langkah mengelak bertanggung jawab. Kami ingin mengambil keputusan yang ditujukan bagi rakyat Lebanon,” ujar Najem.

Keterangan gambar,

Banyak warga Lebanon meluapkan kemarahan mereka kepada elite politik yang mereka anggap korup, lalai dan salah urus.

Beberapa menteri kabinet sebelumnya sudah mengundurkan diri, termasuk menteri Menteri Lingkungan, Damianos Kattar dan Menteri Informasi, Manal Abdel Samat.

Namun terus muncul agar segenap pemerintahan mengundurkan diri. Banyak rakyat Lebanon menyalahkan pemerintah karena mengizinkan bahan peledak dalam jumlah besar disimpan di pelabuhan Beirut.

Korban bertambah

Mereka juga meluapkan kemarahan atas hal yang mereka anggap sebagai korupsi yang merajalela, dan warga pun turun ke jalan-jalan untuk mengadakan unjuk rasa.

Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia akibat ledakan itu kini bertambah menjadi 220 orang, sebagaimana dikatakan oleh Gubernur Beirut, Marwan Abboud.

Ia juga mengatakan puluhan orang sejauh ini masih hilang, banyak di antara mereka adalah pekerja asing dan pengemudi truk.

Keterangan gambar,

Sekurang-kurangnya 300.000 warga kehilangan tempat tinggal akibat ledakan di Beirut.

Perdana Menteri Hassan Diab dan Presiden Michael Aoun sebelumnya menjelaskan bahwa ledakan berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang pelabuhan.

Pihak berwenang sudah diperingatkan berkali-kali bahwa penyimpanan amonium nitrat di pelabuhan itu berbahaya.

Mengapa kabinet mundur?

Ketidakpuasan di Lebanon sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Menjelang akhir tahun 2019, rencana memajaki panggilan telepon dengan WhatsApp memicu protes massal menentang kekacauan ekonomi dan korupsi, yang pada akhirnya melengserkan pemerintah saat itu.

Pandemi virus corona membatasi ruang gerak unjuk rasa, namun kondisi keuangan terus memburuk dan ledakan di Beirut pada Selasa lalu dianggap oleh banyak pihak sebagai buah mematikan akibat korupsi dan salah urus selama bertahun-tahun.

Bagi banyak warga Lebanon, yang sudah kehilangan kepercayaan kepada elite politik, rencana pemerintah untuk menggelar penyelidikan tidak cukup.

Tetapi akhir dari perjalanan pemeritahan ini tidak serta merta bermakna bahwa kemarahan rakyat juga berakhir. Protes tahun lalu mengarah ke pembentukan pemerintahan yang sekarang dipaksa mundur dengan tuduhan yang sama, korupsi.

Related posts