Prancis selidiki ‘serangan teroris’ terhadap seorang guru yang dipenggal, Macron: “Mereka tidak akan menang”

Prancis selidiki 'serangan teroris' terhadap seorang guru yang dipenggal, Macron: "Mereka tidak akan menang"

Keterangan gambar,

Pembunuhan guru itu dinyatakan Presiden Macron sebagai serangan teroris

Seorang guru dipenggal di pinggiran barat laut Paris. Penyerangnya ditembak mati oleh polisi.

Sebelum kejadian, guru itu disebut menunjukkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Serangan terjadi pada Jumat sekitar pukul 17.00 waktu setempat (15.00 GMT) di dekat sekolah tempat guru itu mengajar.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi tempat kejadian dan menyebut pembunuhan itu sebagai “serangan teroris Islamis”.

Macron mengatakan guru itu dibunuh karena ia “mengajarkan kebebasan berekspresi”.

“Mereka tidak akan menang … Kami akan bertindak,” kata Macron.

Jaksa anti-teror sedang menyelidiki kasus ini.

Penyerang yang bersenjatakan pisau ditembak ketika petugas berusaha menangkapnya setelah serangan itu. Polisi belum merilis detil pribadi apapun tentang pelaku.

Namun seorang sumber mengatakan pada kantor berita AFP, ditemukan kartu identitas pada penyerang yang menunjukkan pria itu kelahiran Moskow, tahun 2002 (usia 18 tahun).

Empat orang, termasuk seorang anak di bawah umur, telah ditangkap, kata sumber pengadilan kepada AFP pada Sabtu pagi. Mereka yang ditangkap terkait dengan penyerang, kata sumber itu.

Saat ini pengadilan atas serangan tahun 2015 terhadap majalah satire Prancis Charlie Hebdo, yang ditarget karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad, tengah berlangsung di Paris.

Tiga minggu lalu, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah Charlie Hebdo.

Keterangan gambar,

Sebuah mural korban serangan di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2015.

Perkembangan penyelidikan

Seorang pria yang memegang pisau besar menyerang guru tersebut di sebuah jalan di daerah bernama Conflans-Sainte-Honorine, dan memenggalnya. Penyerang kemudian melarikan diri.

Polisi tiba di tempat kejadian setelah menerima telepon tentang seseorang yang mencurigakan yang berkeliaran di dekat sekolah, kata seorang sumber di kepolisian kepada kantor berita AFP.

Polisi menemukan orang [guru] yang tewas dan segera mengenali terduga pelaku yang bersenjatakan pisau. Polisi menyebut lelaki itu mengancam mereka saat mereka mencoba menangkapnya.

Polisi melepaskan tembakan dan mengakibatkan luka parah pada lelaki itu. Ia kemudian meninggal karena luka-lukanya, kata sumber pengadilan.

Keterangan gambar,

Polisi menutup tempat kejadian perkara dan melanjutkan penyelidikan

Tempat kejadian ditutup dan penyelidikan tengah dilakukan.

Dalam sebuah cuitan dalam bahasa Prancis di akun twitter, polisi mengimbau masyarakat untuk menghindari daerah tersebut.

Identitas pelaku

Menurut seorang sumber dari institusi hukum kepada kantor berita AFP, kartu identitas yang ditemukan pada penyerang menunjukkan bahwa ia lahir di Moskow pada 2002. Namun penyidik sedang menunggu identifikasi resmi.

Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki cuitan yang diposting dari akun yang menunjukkan gambar kepala guru. Namun akun ditutup setelah postingan itu.

Tidak jelas apakah pesan yang berisi ancaman terhadap Macron – yang digambarkan sebagai “pemimpin kaum kafir” – itu telah diposting oleh penyerang, kata mereka.

Guru yang ‘super baik, super ramah’

Menurut surat kabar Le Monde, korban adalah seorang guru sejarah dan geografi, ia berbicara di kelas tentang ‘kebebasan berekspresi terkait dengan kartun Nabi Muhammad’, kartun yang menyebabkan keributan di antara penganut agama Islam ketika Charlie Hebdo menerbitkannya.

Keterangan gambar,

Presiden Macron menyatakan guru itu dibunuh karena mengajarkan ‘kebebasan berekspresi’

Orang tua murid dari sekolah tempat guru itu mengajar mengatakan bahwa guru itu mungkin telah menimbulkan “kontroversi” dengan meminta murid Muslim meninggalkan ruangan sebelum memperlihatkan kartun tersebut.

“Menurut anak saya, dia super baik, super ramah,” kata orang tua murid, Nordine Chaouadi kepada AFP.

Guru itu “hanya berkata kepada anak-anak Muslim, ‘Pergi, aku tidak ingin ini melukai perasaanmu.’ Demikian yang disampaikan anak saya, “kata Nordine.

Warga di lingkungan yang biasanya tenang itu mengatakan mereka terkejut.

“Tidak pernah terjadi apa-apa di sini,” kata Mohand Amara, yang tinggal di dekat lokasi kejadian. AFP menemuinya saat Mohand tengah mengajak anjingnya berjalan-jalan tidak jauh dari sekolah.

Saya melihat dia (guru) hari ini, dia datang ke kelas saya untuk melihat guru kami. Sungguh mengejutkan bahwa saya tidak akan melihatnya lagi, “kata Tiago, seorang siswa kelas enam.

Awal bulan ini, beberapa orang tua Muslim mengeluh kepada sekolah tentang keputusan guru tersebut yang menggunakan satu atau lebih kartun Nabi Muhammad itu sebagai bagian dari diskusi tentang persidangan Charlie Hebdo, demikian laporan media Prancis.

Menanggapi serangan hari Jumat, Charlie Hebdo menyatakan dalam akun twitternya, “Intoleransi baru saja mencapai ambang batas baru dan tampaknya tidak berhenti untuk memaksakan teror di negara kita.”

Bila motif pembunuhan ini dapat dibuktikan, hal itu akan sangat mengejutkan Prancis, kata wartawan BBC Hugh Schofield di Paris. Mereka akan melihatnya bukan hanya sebagai serangan brutal, katanya, tapi serangan brutal terhadap seorang guru karena menjalankan tugasnya untuk menjelaskan.

Prancis telah menyaksikan gelombang kekerasan sejak serangan terhadap Charlie Hebdo pada tahun 2015 yang menewaskan 12 orang, termasuk seorang kartunis terkenal.

Bagaimana reaksi Prancis

Majelis Nasional, parlemen Prancis, mengutuk “serangan teror yang mengerikan” dan melakukan penghormatan terhadap guru yang tewas pada hari Jumat itu.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin, dalam perjalanan ke Maroko, akan segera kembali ke Paris.

Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer menyatakan dalam cuitan di twitter bahwa pembunuhan seorang guru adalah serangan terhadap Republik Prancis.

Related posts