Cerita pemimpin sekte di AS yang dijadikan mumi dalam kantong tidur yang dihiasi lampu Natal

cerita-pemimpin-sekte-di-as-yang-dijadikan-mumi-dalam-kantong-tidur-yang-dihiasi-lampu-natal-10

Sumber gambar, YouTube/Love Has Won

Keterangan gambar,

Amy Carlson, 45 tahun, pemimpin spiritual gerakan agama baru yang disebut ‘Love Has Won’.

Kepala polisi di Desa Saguache di Colorado, Amerika Serikat, memerintahkan Kopral Steven Hansen untuk menyelidiki adanya laporan kematian pada suatu malam.

Sesosok mayat dikatakan telah ditemukan di sebuah rumah di ruas jalan terpencil dekat Moffat, sebuah kota yang diapit pegunungan dengan penduduk sekitar 100 orang.

Dalam hitungan jam, Hansen mengeluarkan surat perintah untuk menggeledah rumah tersebut. Dia merasa terusik dengan apa yang dilihatnya.

Di salah satu kamar tidur, ada semacam tempat keramat yang digambarkan Hansen sebagai sisa-sisa mumi dari apa yang tampak seperti seorang perempuan.

Ditempatkan di tempat tidur, tubuh perempuan itu dibungkus dalam kantong tidur yang dihiasi lampu Natal, sementara riasan berkilau diletakkan di sekitar matanya.

Mayat tersebut diyakini sebagai sosok Amy Carlson, pemimpin spiritual Love Has Won yang berusia 45 tahun, sebuah kelompok spiritual yang dianggap para kritikus dan polisi sebagai sekte pemujaan.

Untuk memastikannya, petugas koroner perlu memeriksa catatan gigi, lantaran tubuhnya sangat membusuk sehingga sidik jarinya tidak dapat ditemukan.

Dia meyakini perempuan itu kemungkinan telah meninggal sejak Maret lalu.

Walaupun tidak ada bukti tindak kriminal, tujuh orang anggota Love Has Won telah dijadikan tersangka dan ditangkap di rumah tersebut.

Mereka dituduh menyalahgunakan mayat.

“Saya belum pernah melihat sekelompok orang begitu acuh tentang jasad orang mati,” kata Hansen kepada media lokal.

Keterangan gambar,

Polisi menangkap tujuh orang anggota kelompok sekte keagamaan itu, termasuk Obdulia Franco (kiri), 52 tahun, dan Jason Castillo, 45 tahun (kanan).

Tak satu pun dari semua ini yang mengejutkan keluarga Carlson, yang hampir yakin perihal identitas jenazah.

“Kami tahu dia tidak sepenuhnya tidak bersalah dalam keseluruhan situasi ini, karena dia memilih untuk bergabung dengan aliran sesat ini,” kata adik perempuan Carlson, Chelsea Renninger, kepada BBC.

“Tapi di saat yang sama, dia tidak pantas menerima apa yang terjadi padanya pada akhirnya. Tidak ada manusia yang pantas menerima itu.”

Selama bertahun-tahun, Renninger yakin kepemimpinan kakaknya di Love Has Won akan berakhir dengan tragedi.

Sedikit yang diketahui tentang asal-usul Love Has Won, yang diyakini muncul pada akhir 2000-an dengan kedok berbeda.

Seorang pengikutnya mendorong agar Carlson bergabung dengan gerakan mereka, membuka jalan untuk pengangkatannya sebagai pimpinan Love Has Won.

Para pengikutnya agaknya tidak memiliki seperangkat keyakinan yang tetap. Sebaliknya, mereka mempraktikkan dan mengkhotbahkan teologi campuran yang terdiri dari filsafat New Age (Zaman Baru), teori konspirasi, dan pemujaan mesiah.

Sosok mesiah mereka adalah Carlson, yang dikenal sebagai “Mother God (Ibu Tuhan)”.

Ajarannya sakral, dan klaimnya bahkan lebih fantastis ketimbang gelarnya.

Dia adalah Yesus Kristus dalam salah satu dari 534 kehidupan masa lalunya, dapat menyembuhkan kanker, dan dapat berbicara dengan mendiang aktor Robin Williams, demikian klaimnya yang sering diulang-ulang.

Keterangan gambar,

Amy Carlson (tengah) dan adik-adiknya, Tara (kiri) dan Chelsea Renninger (kanan).

Klaim palsu ini dipromosikan kepada para penganutnya di AS dan di seluruh dunia dalam streaming langsung setiap hari di YouTube.

Dalam tayangan video itu, para pengikut Carlson meminta sumbangan, mengobral barang dagangan New Age, dan memanjakan pemimpin mereka.

Di depan kamera, para pengikut tampak puas dengan gaya hidup bohemian. Namun kesaksian dari eks anggotanya membuat kelompok itu seperti lampu yang meredup.

Dalam sebuah film dokumenter Vice, beberapa mantan anggotanya membuat kesaksian yang menyebut adanya pelecehan fisik dan mental. Tuduhan yang dibantah pengikut Carlson.

Dalam dokumen pengadilan, yang dilihat BBC, Kantor Kepolisian Saguache mengatakan pihaknya “menerima banyak keluhan dari keluarga di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa kelompok itu mencuci otak orang-orang dan mencuri uangnya”.

Tidak seorang pun dari kelompok ini, yang situs webnya tidak dapat diakses, dapat dihubungi untuk wawancara. Halaman Facebook yang berafiliasi dengan Love Has Won tidak menanggapi permintaan komentar.

Salah satu dari tiga anak Carlson, Cole Carlson, mengatakan bahwa tuduhan tidak menyenangkan merupakan yang paling menyakitkannya.

Itulah salah-satu alasan Cole Carlson, 25 tahun, yang menjadi sangat asing dengan sosok ibunya hampir sepanjang hidupnya.

“Kehidupan saya normal-normal saja, selain fakta ibu saya bergabung dengan sebuah sekte,” kata Carlson kepada BBC.

Dia berusia 12 tahun ketika ibunya, mantan karyawan McDonald’s dari Texas, memutuskan untuk mengejar misi ilahinya.

Suaranya bergetar lantaran begitu emosional tatkala dia menggambarkan saat dia mengetahuinya.

Dia seharusnya menghabiskan perayaan Natal di Houston bersama ibunya tetapi, tak lama sebelum perjalanan, ayahnya memberi tahunya tentang apa yang telah terjadi.

Ibunya telah pergi, meninggalkan anak-anaknya – termasuk seorang bocah berusia dua tahun – dalam perawatan ayah mereka.

Terlepas dari ingatan yang menyakitkan ini, Carlson mengatakan dia mencintai ibunya tanpa syarat.

“Dia bukan ibu terbaik, bahkan ketika dia ada. Tapi saya sangat mencintainya,” kata Carlson, yang tinggal dan belajar ilmu biologi di Portland, Oregon.

Keterangan gambar,

Carlson (kiri) dengan ibunya, Linda Haythorne (bawah), dan adik-adiknya, Chelsea (tengah) and Tara (kanan).

Tidak ada kekurangan cinta dalam hidup Carlson, ujar saudara perempuannya, Renninger. Mereka mendapat “asuhan yang hebat” dari orang tua yang penuh kasih di Dallas.

Di sekolah, Carlson adalah murid dengan nilai A dan anggota paduan suara terkemuka. Hanya saat beranjak dewasa, ketika dia mulai berbicara dengan orang-orang asing di internet, persona spiritualnya terwujud.

Ketika dia meninggalkan rumah untuk bersama orang-orang asing itu, banyak anggota keluarganya tidak pernah melihat atau berbicara dengannya lagi.

Namun, tidak ada yang membuahkan hasil. Dia tetap terikat pada gerakan itu sampai akhir.

Hingga kini, penyebab kematiannya masih diselidiki. Pekan lalu, seorang jaksa penuntut mengatakan dia berencana untuk mengajukan dakwaan perusakan tubuh terhadap tujuh orang yang ditangkap atas kematian Carlson.

Ketujuh orang itu tinggal di rumah Miguel Lamboy, tersangka anggota Love Has Won, saat jenazah ditemukan pada 28 April lalu.

Tubuhnya dalam kondisi buruk, dengan kulit kelabu, mata hilang, dan gigi terlihat sepanjang bibir, kata Lamboy kepada polisi.

Detail mengerikan ini mengejutkan keluarga Carlson dan mengingat nasib para sosok mesianik lainnya – dari Shoko Asahara dan David Koresh, hingga Charles Manson dan Jim Jones.

Kehidupan mereka seharusnya menjadi kisah peringatan bagi siapapun sebagai pertimbangan untuk bergabung dengan sekte, kata ibu Carlson, Linda Haythorne, kepada BBC.

“Walaupun dia melakukan beberapa hal yang mengerikan, dia tetaplah manusia,” katanya.

“Saya ingin memberitahu betapa berbahayanya sekte itu dan mudah-mudahan, kami dapat membantu para ibu, saudara perempuan atau anak-anak lainnya.”

Baca juga

Related posts