Monday, March 30, 2020
Home Blog

“Mereka harus membayar!”: Donald Trump sebut Harry dan Meghan harus bayar biaya pengamanan di AS

0

Hak atas foto Getty Images
Image caption Harry dan Meghan dilaporkan telah pindah dari Kanada ke California.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan AS tidak akan membayar biaya pengamanan untuk Pangeran Harry dan Meghan, di tengah laporan bahwa mereka telah pindah ke AS dari Kanada.

Trump mengatakan dalam sebuah cuitan bahwa ia “teman baik dan pengagum sang Ratu dan Inggris Raya,” tapi menambahkan: “Mereka harus membayar!”

Pasangan keluarga Kerajaan Inggris itu mengatakan mereka tidak berencana meminta pengamanan yang dibiayai publik di AS.

Mereka dilaporkan pindah ke negara bagian California, kampung halaman Meghan, di tengah wabah virus corona yang semakin intens.

Mereka akan resmi mundur sebagai anggota senior kerajaan pada 31 Maret dan tidak akan lagi melakukan tugas-tugas atas nama Ratu, tapi pengaturan ini akan ditinjau ulang setelah setahun.

Dalam pernyataan yang dirilis melalui seorang juru bicara pada hari Minggu, Harry dan Meghan mengatakan: “Duke dan Duchess tidak berencana meminta pengamanan kepada pemerintah AS. Pengaturan keamanan yang dibiayai pribadi telah dibuat.”

Pasangan tersebut dan putra mereka, Archie, telah menghabiskan banyak waktu di pantai barat Kanada tahun ini, usai liburan Natal selama enam pekan di Pulau Vancouver.

Bulan lalu, pemerintah Kanada mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memberikan bantuan keamanan kepada keluarga Harry “sesuai dengan perubahan status mereka”.

Sekarang Trump tampaknya mengikuti langkah itu.

Keluarga itu pekan lalu pindah lagi ke daerah Los Angeles tempat Meghan dibesarkan dan tempat ibunya, Doria Ragland, sekarang tinggal, lansir media AS.

Pengumuman Presiden Trump muncul saat virus corona baru terus menyebar ke seluruh AS. Sampai Minggu (29/03) malam, terdapat 142.106 kasus yang dikonfirmasi di AS– jumlah yang lebih banyak daripada negara-negara lain – dan 2.479 orang meninggal dunia.

Di California, kasus virus corona terus meningkat. Pekan lalu Gubernur Gavin Newsom mengeluarkan perintah perlindungan di tempat –memerintahkan warga California untuk tetap di rumah kecuali untuk menyediakan atau mengakses layanan penting – salah satu arahan terberat di negeri itu.

Ayah Pangeran Harry, Pangeran Wales, dinyatakan positif mengidap virus corona awal pekan ini, kata Istana Buckingham, tetapi “kesehatannya tetap baik”.

Virus corona: Perawat yang meninggal akibat Covid-19: ‘Saya hidup, mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk untuk profesi’

0

Hak atas foto EPA
Image caption (Foto ilustrasi) Sejumlah staf medis memakai baju pelindung dalam menangani para pasien Covid-19.

Sebelum pemerintah mengumumkan kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020, tenaga medis di sejumlah fasilitas kesehatan menangani pasien seperti biasa, tanpa Alat Pelindung Diri (APD) khusus. Beberapa kemudian terinfeksi dan meninggal dunia.

Salah seorang tenaga medis yang meninggal adalah Ninuk, perawat RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di usianya yang ke-37 tahun.

Yah, aku positif Covid-19… masih bisa hidup nggak aku ya?” tanya Ninuk kepada suaminya, Arul, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Dr. Cipto Mangunkusumo pada 10 Maret lalu, sebagaimana dikenang Arul.

Hak atas foto Keluarga Alm. Ninuk
Image caption Salah seorang tenaga medis yang meninggal adalah Ninuk, perawat RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di usianya yang ke-37.

Setelah 12 tahun menjadi perawat di rumah sakit itu, tepatnya di ruang ICU, Ninuk terbaring lemah sebagai pasien di RSCM karena penyakit yang dideritanya sejak awal Maret.

Ia mengalami rasa lelah yang amat sangat, demam hingga 39 derajat Celcius, diare, hingga sesak napas. Ninuk akhirnya dirawat di RSCM, setelah sebelumnya dua kali rawat jalan di RS itu.

Pemerintah Indonesia sendiri baru mengungkapkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia tanggal 2 Maret.

Hak atas foto Keluarga Alm. Ninuk
Image caption Ninuk bekerja sebagai perawat di RSCM selama 12 tahun.

Di ranjang IGD, tubuh Ninuk tak hentinya berpeluh, sementara hidungnya terus berair. Ia juga mengeluh pinggangnya terasa nyeri.

Suaminya, Arul, menemaninya sambil menyeka keringatnya dan mencoba meredakan nyeri di pinggangnya dengan obat gosok.

“Saya bilang tenang saja. Allah yang memberikan sakit, Allah juga yang menyembuhkan. Saya hanya bisa menyemangati saat itu,” kata Arul, mengenang perbincangannya dengan istrinya.

Hak atas foto Antara foto
Image caption Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3).

Menjelang malam, Ninuk semakin kesulitan bernapas hingga ia harus dibantu dengan ventilator.

“Di ruang isolasi (IGD RSCM), kami panggil petugas medis, perawat, susah. Saya pantau saat almarhum dipasangi ventilator…Saya juga yang nengok-nengok, kadang-kadang (alatnya) eror karena dia gelisah, tercopot alatnya. Saya panggil petugas medis baru dipasang ulang,” ujar Arul.

Keesokan harinya, keluarga dilarang untuk bertemu dengan Ninuk.

Ninuk dibawa pihak RSCM ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta. Dia diisolasi di sana hingga akhirnya meninggal dunia (12/03).

Hak atas foto Destyan Sujarwoko/ANTARA FOTO
Image caption Petugas kesehatan dengan APD di Puskesmas Ngantru.

Menurut data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ninuk adalah perawat pertama yang tercatat meninggal akibat Covid-19.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan sebanyak 50 tenaga medis di Jakarta, yang terdiri dari dokter dan perawat, telah terinfeksi virus corona.

Sementara, menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI), setidaknya lima orang dokter meninggal akibat Covid-19.

Hak atas foto Antara foto
Image caption Bantuan APD dari China tiba di Malang, Jawa Timur, 23/03).

Dari mana Ninuk tertular virus?

Sebelum jatuh sakit, selain bekerja di RSCM, Ninuk tengah mengambil kuliah D-4 keperawatan di Jakarta Selatan serta menjalani praktik lapangan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat.

Ninuk, yang berdomisili di Cikarang, Bekasi, dan beraktivitas dengan kereta commuter line ini, pernah menderita radang paru-paru di masa lalu.

“Kalau saya pribadi (berpikir), mungkin dia (terinfeksi) di RSCM atau RS Grogol,” kata Arul.

Hak atas foto Antara foto
Image caption Sejumlah guru membuat baju khusus untuk tenaga medis di SMK Negeri 5 Palu di Palu, Sulawesi Tengah, (23/03).

Arul mengatakan sepengetahuannya, istrinya tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) untuk menghadapi pasien yang mungkin mengidap Covid-19 saat bertugas. Apalagi RSCM bukan merupakan rumah sakit rujukan Covid-19.

Istrinya juga tidak tahu menahu apakah ia sedang atau pernah menangani pasien dengan Covid-19, kata Arul.

Jika pemerintah mengetahui adanya kasus Covid-19 lebih cepat, Arul yakin rumah sakit akan lebih sigap menangani penyakit itu.

“Kalau ada informasi, minimal rumah sakit kan pasti tau seperti apa manajemennya,” ujar Arul.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Seorang peserta pelatihan Balai Latihan Kerja (BLK) mengenakan alat pelindung diri (APD) di BLK Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang, Jawa Tengah (27/3).

Ninuk sempat dikabarkan terkena virus corona setelah merawat seorang WNA Korea Selatan dengan gejala Covid-19 pada bulan Februari.

Namun, RSCM enggan mengonfirmasi hal itu, meski tidak membantahnya.

“Maaf, kami tidak dapat membahas hal tersebut. Semua kasus disampaikan melalui Jubir Nasional yang ditunjuk presiden. Demikian,” ujar Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti dalam pesan tertulis.

Sejauh ini, Jubir Nasional yang ditunjuk Presiden Joko Widodo, Achmad Yurianto, tidak membuka keterangan terkait penelusuran (tracing) suatu kasus.

Lies juga tidak mau menjawab tentang apakah WNA Korea Selatan itu betul terinfeksi virus corona.

“Untuk positif dan negatif, data ada di Litbangkes (Kemenkes),” ujarnya.

Hak atas foto Ari Fahrial Syam
Image caption ‘Petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien baik di poliklinik maupun di rawat inap.’

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Dokter Ari Fahrial Syam, petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien baik di poliklinik maupun di rawat inap.

“Terus terang ini juga sudah saya prediksi, bahwa model penyebaran kontak langsung seperti saat ini membuat petugas kesehatan bisa menjadi korban,” ujarnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Perawat mengenakan pakaian Alat Pelindung Diri baju hazmat (Hazardous Material) menuju kamar isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur.

Pemerintah Indonesia baru mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia di awal Maret (02/03), meski ada laporan yang mengindikasikan kasus Covid-19 sudah ada di Indonesia sebelum Maret.

Singapura, misalnya, melalui website resmi moh.gov.sg mengungkapkan, beberapa warganya terinfeksi virus corona setelah kunjungan ke Jakarta dari pertengahan Februari hingga awal Maret (kasus 107, 148, 153, 162).

Seorang warga Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia (03/03) karena Covid-19, sebagaimana dikonfirmasi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, meski sebelumnya pemerintah mengatakan warga itu negatif terinfeksi kasus corona.

‘Belum terima hasil tes sampai sekarang’

Suami dan dua anak yang ditinggalkan Ninuk, hingga dua pekan setelah dia mengembuskan napas terakhir, belum mendapat kepastian dari Kementerian Kesehatan tentang status kesehatan mereka.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas berjalan di samping karangan bunga dukungan untuk tenaga medis dan staf Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta, (21/3).

Arul mengatakan, ia dan keluarganya telah menjalani tes swab, yang diminta dinas kesehatan terkait, setelah Ninuk dinyatakan meninggal akibat terkena virus Covid-19.

“Prosesnya kok lama banget? Kami kasihan sama tetangga. Mereka sampai sekarang belum bisa berangkat kerja karena nunggu hasil tes saya,” ujarnya.

Padahal, kebanyakan dari tetangganya, kata Arul, adalah pekerja pabrik.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Pekerja menata potongan kain berbahan “polypropilene spunbond” yang akan dijahit menjadi pakaian APD (alat Pelindung Diri) kesehatan di UKM Tulip Craft, Tulungagung, Jawa Timur, (27/3).

Hingga kini, Arul mengatakan dia dan anak-anaknya dalam keadaan sehat, meski kedua anaknya sangat terpukul dengan kepergian Ninuk.

Mereka tidak bisa memasuki ruangan isolasi maupun melihat wajah jenazah ibunya karena perlakuan khusus yang diterapkan pada pasien dengan Covid-19.

Hak atas foto Aswaddy Hamid/ANTARA FOTO
Image caption Petugas kesehatan mengenakan APD di salah satu fasilitas kesehatan di Dumai.

Arul hanya bisa memberi mereka pengertian.

“Saya sebagai ayahnya, saya bilang mama itu pahlawan. Mereka bangga punya ibu seperti itu, yang secapek apapun setelah dinas, nggak pernah marah atau menunjukkan dia lelah,” ujarnya.

Menjelang ajal, Arul juga mengingat apa yang disampaikan Ninuk.

“Dia mengatakan ‘saya hidup untuk orang yang saya sayangi dan mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk (untuk) profesi saya’,” ujarnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption RSUD Dr Moewardi Solo membuat sendiri APD.

‘Perawat yang harus benar-benar pakai APD’

Setelah melonjaknya angka kasus Covid-19 di Indonesia, sejumlah rumah sakit, baik yang rujukan maupun bukan, memperketat pengamanan terhadap tenaga medis dengan pemakaian APD.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Dokter RSUD Kota Bogor melakukan pemeriksaan terhadap pasien suspect virus COVID-19 saat simulasi di ruang isolasi RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, (4/3).

Annisa, seorang dokter paru-paru yang bertugas di rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah di Jakarta, mengatakan kini petugas kesehatan diminta memperlakukan seorang suspek sebagai positif Covid-19, sampai terbukti sebaliknya.

Ia menambahkan perawat lah yang paling penting memakai APD.

“Yang harus benar-benar pakai itu ya perawat karena mereka kontak erat (dengan pasien). Mereka yang ambil darah, ganti popok pasien, mereka yang benerin infus. Kalau dokter mungkin sekadar periksa, observasi, tapi kalau perawat itu benar-benar intens dengan pasien, mereka harus pakai,” ujar Annisa.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) di dalam Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta, (4/3).

Meski begitu, kata Annisa, keberadaan APD terbatas, apalagi di rumah sakit swasta, yang bukan rujukan pemerintah.

“Seperti (contohnya), yang dipakai bukan goggle medis… tapi goggle untuk industrial pun kita pakai karena tidak ada yang lain. Sedangkan kita itu shift-nya bisa sampai 8 jam dan APD tidak bisa dilepas karena udah nggak ada lagi (stok APD-nya),” ujar Annisa.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas medis mengecek ruang isolasi khusus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kraton, Pekalongan, Jawa Tengah, (5/2).

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah, mengatakan hingga 26 Maret masih banyak perawat yang mengeluhkan langkanya APD.

Sebelumnya, tenaga medis di sejumlah daerah, seperti Serang di Banten, dan Surabaya, Jawa Timur, mengenakan jas hujan karena keterbatasan APD.

Hak atas foto MUH. AMRAN AMIR/Kompas.com
Image caption Alat Pelindung Diri (APD) Tim medis RSUD Lakipadada Tana Toraja, minim dan susah didapatkan, maka petugas membuat dan memanfaatkan bahan sederhana.

Dalam pernyataan bersama IDI, PPNI, dan sejumlah organisasi lainnya, mereka mendesak terjaminnya APD bagi para petugas medis karena dalam kondisi wabah, setiap pasien mungkin adalah orang dalam penularan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP).

“Bila hal ini tidak terpenuhi, maka kami meminta kepada anggota profesi kami untuk sementara tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien Covid-19 demi melindungi dan menjaga kesehatan Sejawat,” ujar organisasi itu dalam pernyataan tertulis (27/03).

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas medis bersiap di ruang perawatan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (23/3).

Apa yang dilakukan pemerintah?

Pemerintah mengklaim telah mendistribusikan 151.000 APD ke seluruh provinsi di Indonesia, termasuk ke wilayah yang kesulitan transportasi seperti di Papua dan Papua barat serta wilayah perbatasan.

“Pertama, APD tersebut akan didorong khususnya kepada daerah-daerah yang memiliki kesulitan transportasi dan di perbatasan,” kata Paban IV/Operasi Dalam Negeri Staf Operasi TNI, Kolonel Aditya Nindra (27/3).

“Dari rumah sakit-rumah sakit yang ada di daerah, bisa berkomunikasi kepada gugus tugas daerah sehingga mereka bisa mendapatkan alokasi dari APD yang sudah didistribusikan itu,” kata Aditya.

Sementara di Jakarta, Gubernur Anies Baswedan menyediakan Hotel Grand Cempaka untuk ditempati para petugas medis.

Ia mengatakan hal itu dilakukan untuk mengakomodasi tenaga medis yang khawatir pulang ke rumah masing-masing karena takut membawa penyakit.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas Medis berada di dalam bilik disinfektan di Hotel Grand Cempaka Bisnis, Jakarta, (28/3). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan tempat tinggal dan transportasi untuk tenaga medis dan kesehatan yang menangani pandemi virus corona atau COVID-19.

Anies mengatakan, dalam waktu dekat tiga hotel milik BUMD DKI juga akan segera menyusul, dengan jumlah total 261 kamar tambahan dan 361 tempat tidur.

Virus corona: Peta dan infografis terkait pasien terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

0

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rapid test di Stadion Patriot, Bekasi, Jawa Barat

Virus corona baru yang pertama muncul di provinsi Hubei China kini menyebar luas di Amerika Serikat, kasus positif corona di sana melampaui China.

Kasus virus secara global tercatat setidaknya 724.201, kurang dari seperempat jumlah tersebut telah dinyatakan sembuh. Sementara angka kematian lebih dari 34.206 orang.

Di Indonesia, angka kasus positif Covid-19 yang dilaporkan pemerintah telah menembus angka 1.000.

Dalam data yang dihimpun BBC Indonesia dari Kementerian Kesehatan, mulai awal pekan ini penambahan pasien terjadi secara signifikan, lebih dari 100 orang per hari.

Pada Senin (30/03), terdapat 129 kasus baru positif corona sehingga jumlah total menjadi 1.414 kasus.

Dari 1.414 pasien tersebut, 75 orang yang dinyatakan telah sembuh sementara mereka yang meninggal dunia mencapai 122 orang per Senin (30/3).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, menyatakan penambahan signifikan ini membuktikan virus corona “masih ada di antara kita”.

“Ini menandakan proses penularan masih berlangsung terus menerus di tengah masyarakat. Kedua, ada kontak dekat yang terjadi pada kasus ini sehingga masih terjadi penularan,” kata Yurianto.

Hak atas foto EPA/CIRO FUSCO
Image caption Seorang petugas kesehatan di Italia menyemprot gereja dengan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Virus corona menyebabkan penyakit yang disebut Covid-19. Penyakit infeksi pernafasan ini dimulai dengan demam dan batuk kering dan setelah sekitar satu minggu, dapat menyebabkan sesak napas.

Secara global, virus ini telah menginfeksi orang di lebih dari 160 negara.

BBC Indonesia merangkum data perkembangan di Indonesia berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan.

Jumlah kasus virus corona di Indonesia

Dari 1.414 pasien: 75 pasien sembuh dan 122meninggal dunia

Berdasarkan data terbaru, virus corona telah menyebar ke 31 provinsi di Indonesia. Provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

1.414 75 122
Provinsi Kasus Sembuh Meninggal
Jakarta 698 48 74
Jawa Barat 180 8 20
Banten 128 1 4
Jawa Timur 91 16 8
Jawa Tengah 81 7
Sulawesi Selatan 50 1
Dalam verifikasi 37
Bali 19 2
Yogyakarta 18 1 2
Kalimantan Timur 17
Sumatra Utara 13 1
Kalimantan Barat 9
Papua 9
Lampung 8
Sumatra Barat 8
Kalimantan Tengah 7
Kepulauan Riau 6 1
Kalimantan Selatan 5
Aceh 5
Sulawesi Tenggara 3
Riau 3
Sulawesi Tengah 3
Sulawesi Utara 2 1
Jambi 2
Sumatra Selatan 2 2
Kalimantan Utara 2
Nusa Tenggara Barat 2
Papua Barat 2
Maluku 1
Maluku Utara 1
Kepulauan Bangka Belitung 1
Sulawesi Barat 1
Bengkulu
Gorontalo
Nusa Tenggara Timur


Sumber: Kementerian Kesehatan.

Dalam data 69 orang pasien awal yang dirawat karena positif virus corona di Indonesia hingga 13 Maret 2020, lebih dari separuhnya berusia lebih dari 40 tahun.

Namun Kementerian Kesehatan tidak membeberkan usia dan jenis kelamin pasien tambahan yang dikonfirmasi sebagai pasien positif virus corona baru setelah tanggal 13 Maret 2020.

Sebaran pasien virus corona menurut usia di Indonesia

Benarkah laki-laki lebih rentan terjangkit virus corona seperti analisa para pakar kesehatan?

Di Indonesia lebih dari separuh pasien (data hingga 13 Maret 2020) berjenis kelamin laki-laki.

Pasien virus corona menurut jenis kelamin

Berikut ini gambaran perkembangan kasus Covid-19 di dunia termasuk Indonesia.

Kasus virus Corona di dunia per 28 Maret 2020

Dari 691.859 kasus, 21% sembuh dan 4,7% meninggal

Informasi ini diperbaharui dari waktu ke waktu namun tidak merefleksikan kondisi terkini dari masing-masing negara.

723.655 34.010
Kasus Kematian
Amerika Serikat 142.842 2.503
Italia 97.689 10.779
China 82.451 3.311
Spanyol 80.110 6.803
Jerman 62.435 541
Prancis 40.174 2.606
Iran 38.309 2.640
Inggris Raya 19.522 1.228
Swiss 14.829 300
Belanda 10.866 771
Belgia 10.836 431
Korea Selatan 9.661 158
Turki 9.217 131
Austria 8.788 86
Kanada 6.320 64
Portugal 5.962 119
Norwegia 4.284 26
Brasil 4.256 136
Israel 4.247 15
Australia 4.197 17
Swedia 3.700 110
Ceko 2.817 16
Irlandia 2.615 46
Malaysia 2.470 35
Denmark 2.395 72
Chile 2.139 7
Luksemburg 1.950 21
Ekuador 1.924 58
Jepang 1.894 56
Polandia 1.862 22
Rumania 1.815 43
Pakistan 1.597 14
Rusia 1.534 8
Filipina 1.418 71
Thailand 1.388 7
Arab Saudi 1.299 8
Indonesia 1.285 114
Afrika Selatan 1.280 2
Finlandia 1.240 11
Yunani 1.156 39
India 1.024 27
Islandia 1.020 2
Meksiko 993 20
Panama 989 24
Republik Dominika 859 39
Peru 852 18
Singapura 844 3
Argentina 820 20
Serbia 741 13
Slowenia 730 11
Kroasia 713 6
Kapal pesiar Diamond Princess 712 10
Kolombia 702 10
Estonia 679 3
Qatar 634 1
Mesir 609 40
Uni Emirat Arab 570 3
Iraq 547 42
Selandia Baru 514 1
Aljazair 511 31
Bahrain 499 4
Maroko 479 26
Ukraina 475 10
Lituania 460 7
Libanon 438 10
Armenia 424 3
Hungaria 408 13
Latvia 347
Bulgaria 346 8
Andora 334 6
Bosnia dan Hersegovina 323 6
Kosta Rika 314 2
Slowakia 314
Tunisia 312 8
Uruguai 304 1
Taiwan 298 3
Kazakstan 284 1
Moldova 263 2
Makedonia Utara 259 6
Yordania 259 3
Kuwait 255
San Marino 224 22
Burkina Faso 222 12
Siprus 214 6
Albania 212 10
Azerbaijan 209 4
Vietnam 194
Pulau Reunion 183
Oman 167
Pantai Gading 165 1
Kepulauan Faroe 159
Ghana 152 5
Malta 151
Uzbekistan 144 2
Senegal 142
Kuba 139 3
Kameron 139 6
Puerto Rico 127 5
Brunei Darussalam 126 1
Sri Lanka 120 1
Afghanistan 120 4
Venezuela 119 3
Nigeria 111 1
Honduras 110 3
Wilayah Palestina 109 1
Mauritius 107 3
Guadeloupe 106 4
Kamboja 103
Belarus 94
Kosovo 94 1
Martinique 93 1
Georgia 91
Montenegro 85 1
Kirgistan 84
Bolivia 81 1
Kongo 81 8
Trinidad dan Tobago 78 3
Rwanda 70
Gibraltar 65
Paraguai 64 3
Mayote 63
Jersey 63 2
Liechtenstein 56
Guam 56 1
Aruba 50
Bangladesh 48 5
Monako 46 1
Guernsey 45
Prancis Guyana 43
Kenya 42 1
Isle of Man 42
Madagaskar 39
Guatemala 34 1
Uganda 33
Barbados 33
Jamaika 32 1
Togo 30 1
El Salvador 30
Prancis Polynesia 30
Zambia 29
Bermuda 22
Etiopia 21
Kongo 19
Niger 18 1
Jibouti 18
Mali 18 1
Maldives 17
Gini 16
Kaledonia Baru 15
Haiti 15
Bahama 14
Tanzania 14
Gini Ekuatorial 12
Kepulauan Cayman 12 1
Mongolia 12
Eritrea 12
Saint Martin (wilayah Prancis) 11
Dominika 11
Namibia 11
Burma 10
Greenland 10
Suriah 9 1
Grenada 9
Eswatini 9
Saint Lucia 9
Mozambik 8
Guyana 8 1
Suriname 8
Belanda Antiles 8 1
Laos 8
Seychelles 8
Libia 8
Zimbabwe 7 1
Gabon 7 1
Antigua dan Barbuda 7
Angola 7 2
Belanda Antiles 6
Sudan 6 1
Benin 6
Vatikan 6
Cape Verde 6 1
Nepal 5
Montserrat 5
Mauritania 5
Saint Barthélemy 5
Fiji 5
Bhutan 4
Gambia 4 1
Nikaragua 4 1
Kepulauan Turks dan Caicos 4
Republik Afrika Tengah 3
Chad 3
Somalia 3
Liberia 3
Belize 2
Anguila 2
Kapal pesiar MS Zaandam 2
Kepulauan Virgin Inggris 2
Gini-Bissau 2
Saint Kitts dan Nevis 2
St Vincent dan Grenadines 1
Papua Nugini 1
Timor Leste 1
Kepulauan Virgin Amerika


Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), pemerintah daerah

Data infografis ini diperbaharui sesuai perkembangan yang terjadi.

Virus corona: Bagaimana kesiapan kamp-kamp pengungsi menghadapi wabah Covid-19?

0

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kondisi ramai di kamp-kamp pengungsi dapat mempermudah penyebaran virus corona.

Setiap dua detik, seseorang di manapun ia berada di dunia, secara paksa dipindahkan, menurut PBB. Populasi pengungsi, yang jumlahnya terus meningkat, sangat rentan terhadap penyebaran penyakit.

Padatnya penghuni dan kondisi kamp yang kotor menjadikan saran kesehatan yang bertujuan menghentikan penyebaran virus corona – menjaga jarak aman dan sering mencuci tangan – tidak praktis bagi para pengungsi.

Kekhawatiran terus meningkat bahwa ketika virus itu mencapai kamp-kamp yang tersebar di dunia, bencana besar akan timbul.

“Virus itu belum menular di sini. Jika menyebar di kamp-kamp, saya pikir 80 persen akan (tertular), karena sangat ramai,” kata seorang pengungsi kepada BBC.

Potensi bencana

Hak atas foto Chekufa
Image caption Chekufa tinggal bersama anak-anaknya yang masih kecil di kamp dan merasa rentan karena kepadatan penduduk setempat.

Chekufa tinggal bersama suaminya, dua anak perempuan, dan saudara perempuannya di sebuah tenda kecil berukuran sekitar tiga meter kali empat meter di “Kamp Kutupalong” di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Untuk menghindari aksi represif secara masif di Myanmar, lebih dari 700.000 orang Rohingya berduyun-duyun ke negara tetangga Bangladesh pada 2017 lalu. Mereka memberanikan diri menghadapi hewan liar dan sungai-sungai yang meluap demi kelangsungan nyawa.

Tiga tahun kemudian, krisis lain muncul dan mereka tidak punya tempat tujuan lain.

“Kami memiliki satu jamban dan satu kamar mandi untuk 10 keluarga, dan satu sumur untuk 50 rumah. Bagaimana kami dapat terhindar dari virus dalam situasi ini?” dia berkata.

Penutupan

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bangladesh merupakan salah satu negara terpadat di dunia – dan kondisi kamp-kamp pengungsi setempat bahkan lebih padat.

Persiapan sedang dilakukan untuk menjaga agar sedapat mungkin virus tidak masuk.

“Dalam beberapa hari terakhir, kamp telah menjadi sunyi. Pasar, sekolah-sekolah agama dan pusat-pusat pembelajaran semuanya tutup,” kata Chekufa.

“Beberapa orang membeli masker bedah. Saya juga mendengar tentang beberapa LSM yang memberikan sabun kepada orang-orang dan mengajari mereka cara mencuci tangan dengan benar.”

PBB memperkirakan lebih dari 6,6 juta orang tinggal di berbagai kamp di seluruh dunia. Mereka adalah sebagian besar dari populasi pengungsi global, yang diperkirakan mencapai sekitar 26 juta.

Sekitar dua juta orang menetap di kamp-kamp buatan sendiri yang biasanya dibuat dari bahan-bahan lokal yang sangat mendasar.

Bangladesh adalah salah satu negara berpenduduk terpadat di dunia dan bahkan sebelum pandemi itu, tengah mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan logistik untuk menampung begitu banyak pengungsi.

Hak atas foto UNHCR
Image caption UNHCR mengatakan telah menyediakan lebih banyak titik akses air dan meningkatkan kampanye kesadaran di kalangan pengungsi Rohingya.

Negara itu sejauh ini sudah mencatat lima orang yang meninggal dunia akibat pandemi virus corona dan Chekufa ingin melihat lebih banyak staf medis dikerahkan di kamp-kamp untuk meyakinkan para pengungsi.

Badan pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan saat ini tidak ada kasus yang dicurigai sebagai Covid-19 di kamp-kamp pengungsi yang didirikan di Bangladesh.

UNHCR telah menciptakan fasilitas isolasi yang dapat menampung 400 pasien dan saat ini tengah mencari tanah untuk membangun 1.000 kasur tambahan.

Namun, Kutupalong adalah kamp pengungsi terbesar dan terpadat di dunia.

Kekurangan tempat tidur

Hak atas foto UNHCR
Image caption Sabun dibagikan di Kutupalong kamp.

Rumah sakit di distrik Cox’s Bazar memiliki kapasitas yang sangat terbatas untuk mengobati kondisi medis seperti Covid-19, dan sangat tidak memadai untuk menghadapi wabah besar.

“Saat ini ada Unit Perawatan Intensif di Rumah Sakit Sadar di Cox’s Bazar yang sedang kami bantu untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi 10 tempat tidur, beserta upaya lebih lanjut yang sedang berlangsung di fasilitas kesehatan setempat lainnya,” kata Louise Donovan, juru bicara UNHCR yang berbasis di Cox’s Bazar.

UNHCR mendesak petugas kesehatan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran tentang cara membatasi penyebaran virus corona, tetapi langkah-langkah ini kemungkinan hanya akan dapat memperlambat penularan virus.

Kamp yang lebih baik

Hak atas foto Rozhan
Image caption Rozhan, seorang pengungsi Irak di Bosnia, melarikan diri dari perang dan sekarang menghadapi virus corona.

Sekitar 7.000 km dari Bangladesh, di Bosnia, beberapa pengungsi tampaknya merasa jauh lebih aman tentang kemampuan mereka untuk mengatasi apa yang akan terjadi.

Rozhan (28), melarikan diri dari Irak bersama suami dan tiga anaknya dan telah tinggal di kamp pengungsi Bihac selama enam bulan terakhir.

Keluarga itu sedang berusaha untuk mencapai Finlandia, tempat saudara perempuan Rozhan dan beberapa temannya tinggal.

“Kami melarikan diri dari rumah untuk menyelamatkan hidup kami, melarikan diri dari perang, dan sekarang kami dihadapkan dengan virus corona,” kata Rozhan kepada BBC.

Dia mengatakan orang-orang berbicara tentang virus itu, dan mereka khawatir, tetapi tidak terlalu pada saat ini. Dia senang dan mendapatkan informasi yang dia butuhkan.

“Hidup berubah lagi”

Hak atas foto Sima
Image caption Keluarga Sima sedang menerapkan karantina diri.

Pengungsi lain yang melarikan diri dari perang adalah Sima yang berusia 19 tahun. Dia di sini bersama seluruh keluarganya yang terdiri dari enam orang. Keluarganya dulu tinggal di dekat perbatasan bergolak Pakistan dengan Afghanistan.

“Kami adalah Pashto dan saat itu kehidupan ayah saya dalam bahaya. Keluarga saya memutuskan untuk pergi dan pindah ke Prancis – kami telah dalam perjalanan selama tiga tahun terakhir.”

Keluarganya dalam keadaan karantina diri dan ia mengatakan mereka memiliki makanan dan peralatan pelindung yang cukup. Keluarga itu berusaha keras untuk tetap aman.

“Saya pertama kali mengetahui tentang virus corona sekitar 20 hari yang lalu, dan kehidupan kita sekarang telah berubah lagi – kita perlu beradaptasi dengan keadaan baru ini.”

Rute darat melalui Iran

Hak atas foto Melisa KLJUCA, IOM
Image caption Migran yang melewati Iran berisiko tertular dan menyebarkan virus corona, kata Peter Van der Auweraert.

Banyak pengungsi dari Afghanistan dan Pakistan mengambil rute darat melalui Iran – yang telah sangat terpukul oleh wabah virus corona – untuk mencapai Eropa.

“Jelas ada risiko di antara populasi migran, karena mereka transit melalui sejumlah negara, yang banyak di antaranya memiliki kasus virus corona,” kata Peter Van der Auweraert, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Perwakilan Bosnia dan Herzegovina.

Bihac menjadi rumah bagi 7.500 migran, di antaranya 5.200 berada di pusat-pusat resmi di mana penapisan medis telah ditingkatkan, dan zona isolasi sedang dibuat untuk menangani kasus-kasus virus corona.

Mereka yang tinggal di luar kamp ini tidak memiliki perlindungan.

Risiko lebih tinggi di luar kamp

“Risiko terbesar adalah bagi para migran yang tinggal di luar pusat-pusat resmi, baik di akomodasi pribadi atau bangunan yang ditinggalkan. Kelompok ini tidak dicek dan akses mereka untuk perawatan medis hampir tidak ada,” kata Auweraert.

IOM mengatakan jika ada kasus virus corona di antara mereka, hal itu bisa tetap tidak terdeteksi dan karenanya akan menimbulkan risiko bagi migran yang tinggal bersama mereka dan penduduk setempat.

Penduduk setempat memiliki akses ke perawatan medis yang tidak tersedia bagi mereka yang tinggal di akomodasi informal. IOM sedang berupaya membangun fasilitas medis sebanyak mungkin.

Tidak meninggalkan siapa pun

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wabah virus corona di kamp pengungsi yang padat akan menimbulkan krisis kesehatan besar.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan sedang bekerja dengan berbagai pemerintah dan badan-badan PBB untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang rentan.

Badan PBB itu mengatakan sejauh ini belum menerima informasi tentang epidemi virus corona di kamp-kamp pengungsi.

Tetapi, jika dan ketika Covid-19 tiba, masing-masing negara sebagian besar harus menanggulangi kondisi itu sendiri.

“Kami mengharapkan setiap negara menjaga para pengungsi dan migran di dalam perbatasan mereka dan mereka seharusnya tidak meninggalkan siapa pun,” kata seorang juru bicara WHO kepada BBC.

Namun, negara-negara yang menampung pengungsi paling banyak, sering memiliki sumber daya paling sedikit untuk membantu mereka.