Virus corona: Cerita tenaga kesehatan di garis depan wabah Covid-19, ‘perawat selalu bersiap untuk yang terburuk, tapi tidak separah ini’

Virus corona: Cerita tenaga kesehatan di garis depan wabah Covid-19, 'perawat selalu bersiap untuk yang terburuk, tapi tidak separah ini'

Hak atas foto Getty Images

Menghadapi kelangkaan pasokan alat-alat kesehatan dan kekhawatiran bahwa wabah corona sejatinya baru dimulai, seorang perawat yang bekerja di unit gawat darurat sebuah rumah sakit di New York, menuturkan kepada BBC pengalamannya berada di garis depan perlawanan terhadap wabah virus corona.

Apa yang Anda lihat di UGD dalam beberapa pekan terakhir?

Kami melihat gelombang pasien yang datang dengan gejala khas Covid-19 — demam, batuk, kadang-kadang sakit tenggorokan, sakit paru-paru, sakit dada. Orang lain datang dengan gejala gastro-intestinal yaitu mual, muntah, diare, yang telah diidentifikasi sebagai kemungkinan gejala awal Covid.

Kami juga memperhatikan bahwa para pasien datang dengan mata merah, mata mereka merah di pinggirannya. Kami dapat melihat pasien-pasien yang datang ini dan kemudian ternyata positif Covid, kami bisa melihat penyakitnya di wajah mereka, di mata mereka.

UGD kami sepenuhnya pasien Covid. Dan kami kekurangan staf, jadi itu menambah beban pada sistem perawatan darurat kami.

Apakah tenaga kesehatan punya cukup peralatan?

Singkatnya, tidak. Kami tidak punya. Pada hari terakhir saya bekerja, kami kehabisan pompa. Ketika seorang pasien dipasangi infus, ada mesin di sebelah pasien yang menghitung dosis obat, memastikan obat diberikan kepada pasien pada waktu yang tepat, dan dalam jumlah yang tepat. Kami kehabisan pompa itu.

Kami memberikan obat kepada pasien untuk menenangkan mereka dan kami bahkan tidak memiliki peralatan yang tepat untuk memantau kondisi mereka.

Kami dijatah APD — yang merupakan alat pelindung diri kami. Kami mendapatkan satu masker N-95 dan kami harus menggunakannya untuk lima sif. Sebelum pandemi, kami tidak pernah menggunakan kembali peralatan ini. Sekali digunakan setelah itu dibuang.

Sekarang kami diperintahkan untuk menggunakannya untuk satu sif, lalu memasukkannya ke dalam kantong kertas, dan menyimpannya untuk sif berikutnya. Setelah lima sif, kami membuangnya dan kami akan mendapatkan yang baru.

Kami kehabisan persediaan dasar karena semua pasien kami sangat membutuhkan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang tenaga kesehatan berdiri di dalam sebuah tenda yang didirikan untuk melakukan pengujian virus corona pada khalayak di Rumah Sakit Pusat Brooklyn, Kota New York, AS, Senin (30/03).

Bagaimana Anda menghadapinya?

Saya percaya saya menghadapinya sebaik mungkin yang saya bisa. Saya selalu kecapekan pada akhir sif. Kaki saya kebas, mati rasa. Badan pegal-pegal. Seragam perawat saya basah dengan keringat. Tapi hal-hal seperti itu tidak saya pedulikan. Yang saya pedulikan ialah memastikan bahwa keluarga dan teman-teman saya baik-baik saja.

Saya memastikan bahwa keluarga saya tahu, bahwa kalau kamu keluar rumah dan tidak terlindungi, kamu akan terpapar. Dan jika sesuatu terjadi pada kamu, atau jika sesuatu terjadi pada saya, dan amit-amit, saya meninggal, atau amit-amit kamu sakit atau kamu harus diintubasi, kita semua harus melakukannya sendiri.

Rumah sakit kami tidak lagi mengizinkan pengunjung sehingga semua pasien saya harus melawan virus ini sendirian.

Rasanya saya tidak pernah siap untuk hal separah ini. Maksud saya, sebagai perawat, kami selalu siap menghadapi yang terburuk. Di sekolah perawat, kami selalu diberi skenario terburuk, dan bagaimana mengatasinya.

Tapi situasi ini telah terbukti sebagai situasi yang tak seorang pun dari kita tahu akan terjadi. Saya dan rekan-rekan kerja saya berusaha sebaik mungkin untuk mengatasinya setiap hari.

Saat ini, kami sangat stres di rumah. Kami memikirkan pasien kami. Kami memikirkan anggota keluarga kami. Ada perawat yang bahkan tidak pulang karena mereka punya anak-anak di rumah. Ada orang tua mereka di rumah. Untungnya, saya hidup sendiri, saya tidak perlu khawatir tentang hal-hal seperti itu.

Tapi kami sangat tertekan, kami berpegang teguh pada hal-hal kecil yang masih kami miliki, yaitu pengiriman makanan, tertawa sebanyak mungkin yang kami bisa, berbagi meme di internet, saling memotret satu sama lain dalam APD karena hal-hal seperti ini tidak pernah kita duga akan terjadi.

Penyakit ini merenggut semua orang yang Anda kenal, salah seorang perawat rekan kami meninggal. Dia manajer perawat. Dia meninggal pekan lalu karena Covid. Dan manajer perawat biasanya tidak berada di garis depan. Mereka orang-orang yang lebih sering bekerja di kantor, mereka membantu ketika dibutuhkan. Tapi dia meninggal minggu ini.

Dan semua orang bicara tentang betapa sehatnya dia. Dia adalah perawat pertama yang selalu bangkit dan membantu, dia benar-benar setia kawan. Dia meninggal saat sedang merawat pasiennya dan membantu rekan kerjanya dan membantu pasien yang membutuhkan.

Hak atas foto EPA
Image caption Seorang tenaga kesehatan memindahkan jenazah ke tempat penyimpanan sementara karena kurangnya ruangan di Rumah Sakit Pusat Brooklyn, Kota Nw York, AS, Senin (30/03).

Apa yang membuat Anda susah tidur pada malam hari?

Ketakutan saya mengenai pandemi ini adalah Kota New York karena saya merasa kami dihantam lebih keras. Dan kami dihantam lebih dulu. Saya merasa kami sedang menetapkan standar untuk apa yang akan dilakukan daerah-daerah lain dan bagaimana mereka akan merespons. Saya khawatir bahwa kita bahkan belum mengalami situasi yang terburuk.

Dan kami sudah kehabisan barang-barang penting yang kita butuhkan. Saya takut kita akan kembali ke cara perawatan di masa perang. Dan ketika saya mengatakan itu, maksud saya adalah triase, merawat seorang pasien dan mengatakan ‘orang ini tidak memiliki kualitas hidup yang baik sejak awal sehingga kita tidak akan mengambil tindakan heroik untuk menyelamatkan mereka’.

Itu ketakutan terbesar saya. Saya juga khawatir kehabisan persediaan.

Apakah kami akan diharuskan untuk bekerja selama 24 jam? Apa lagi yang akan terjadi? Ketakutan akan hal yang tidak diketahui adalah hal yang mengganggu semua rekan kerja saya.

Apa yang ingin Anda sampaikan pada orang-orang yang tidak berada di garis depan?

Pesan yang ingin saya sampaikan kepada semua orang yang tidak sedang dirawat adalah tetap di rumah. Ya, saya juga benci tinggal di rumah, saya benci terkurung di rumah saya sendiri.

Tetapi pada akhirnya, kemungkinan Anda sakit dan mati sangat, sangat tinggi pada saat ini. Dan Covid tidak hanya berfokus pada orang-orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, orang tua. Semua orang bisa kena.

Tidak masalah siapa Anda. Dia bisa membunuh Anda. Jadi pesan saya adalah tetap di rumah.

Apa ekspektasi Anda untuk pekan-pekan ke depan?

Saya percaya pandemi ini akan berlangsung sampai setidaknya Mei atau Juni. Kami di sistem layanan kesehatan, terutama di New York, percaya bahwa ini akan berlangsung sampai musim panas.

Satu-satunya cara yang saya dan banyak rekan saya percaya bisa mengatasinya adalah karantina wilayah di seluruh negeri. Dan itu berarti pengiriman makanan berhenti. Semuanya tutup kecuali untuk karyawan yang benar-benar penting. Dan itu berarti polisi, perawat, dokter, hanya mereka yang perlu keluar karena kita benar-benar berusaha mengatasi ini.

Orang lain harus di rumah dan kita harus menutup seluruh negeri. Itulah satu-satunya cara yang saya pikir bisa mengatasi ini. Kalau tidak, ini akan terus berlanjut.

Perawat yang berbicara pada kami tidak mau namanya disebut.

Related posts