Virus corona: Jaga jarak kemungkinan masih akan berlangsung lama

Virus corona: Jaga jarak kemungkinan masih akan berlangsung lama

Hak atas foto Getty Images
Image caption Barisan kursi LRT di Palembang, Sumatera Selatan, diberi tanda agar para penumpang dapat menjaga jarak aman.

Berbagai negara di dunia menerapkan pembatasan agar orang tidak saling kontak satu sama lain. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa jaga jarak adalah langkah penting dalam perang melawan Covid-19

Inggris adalah salah satu negara yang telah meningkatkan upayanya, setelah menerima laporan pemodelan komputer yang memprediksi bagaimana virus dapat menyebar. Laporan ini dibuat oleh para peneliti di Imperial College London dan diterbitkan pada 16 Maret.

Para ilmuwan meneliti dua metode potensial untuk mengatasi pandemi, dan melakukan simulasi untuk populasi Inggris dan AS.

Pertama, mitigasi, berfokus pada hanya mengisolasi mereka yang paling berisiko dan mengkarantina mereka yang memiliki gejala.

Yang kedua, penekanan, artinya meminta semua populasi mengambil langkah-langkah untuk menjaga jarak. Secara bersamaan, orang yang menujukkan gejala dan yang terpapar dengannya, harus mengkarantina diri di rumah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berbagai negara di seluruh dunia menerapkan langkah-langkah untuk mendorong jarak sosial.

Penelitian itu menemukan bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil, Inggris berisiko menghadapi 510.000 kematian, sementara kematian di AS bisa mencapai 2,2 juta orang dari Covid-19.

Mereka memperkirakan strategi mitigasi pertama berpotensi mengurangi permintaan akan layanan kesehatan hingga dua pertiga. Separuh jumlah kematian bisa dikurangi, tapi masih akan mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal. Layanan kesehatan, khususnya perawatan intensif, masih akan kebanjiran pasien hingga “beberapa kali lipat”.

Sebelum laporan itu diterbitkan, Inggris ingin mencapai “kekebalan komunitas”. Ini adalah situasi di mana sebagian besar anggota masyarakat menjadi kebal, baik setelah infeksi atau dengan vaksinasi. Dengan mengecilkan kumpulan orang yang dapat tertular infeksi, kekebalan kawanan ini secara efektif menghentikan penyebaran virus lebih jauh.

“Ketika kekebalan kawanan digunakan sebagai strategi, mereka masih mengizinkan beberapa praktik yang berpotensi menyebarkan infeksi,” kata Basu.

“Hal-hal seperti pengumpulan massal masih diperbolehkan dengan pandangan bahwa yang hadir adalah mereka yang lebih sehat dan akan pulih, dan dalam proses memberikan kekebalan kepada orang lain.”

Ketika berbicara tentang Covid-19, Basu mengatakan bahwa sangat sedikit yang kita ketahui dari efek jangka pendek dan jangka panjang infeksi ini. Masih belum jelas juga seberapa kuat kekebalan orang yang telah terinfeksi setelah mereka pulih. (Meskipun beberapa tes pada monyet menunjukkan kemungkinan mengembangkan kekebalan setelah infeksi).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di beberapa tempat orang menemukan cara-cara unik untuk menjaga jarak.

“Jadi, sengaja mengekspos orang yang sehat dan membiarkan infeksi menyebar, bisa berbahaya,” kata Basu. “Jika orang yang terinfeksi menulari orang rentan yang tinggal bersama mereka, maka situasinya dapat meningkat dengan sangat cepat.”

Menanggapi penelitian Imperial, pemerintah Inggris mengubah kebijakannya. Mereka menerapkan langkah-langkah kontrol yang semakin ketat dan pembatasan pada bisnis dan publik.

Usia populasi serta gaya hidup dalam masyarakat berdampak besar pada penyebaran Covid-19, menurut para peneliti di Oxford University dan Nuffield College.

Jennifer Dowd dan rekan-rekannya melihat demografi dan penyebaran penyakit di berbagai belahan dunia.

Italia adalah negara dengan populasi lebih tua, di mana keluarga hidup bersama antar generasi. Di Italia, virus Covid-19 merenggut lebih banyak nyawa.

Ini karena tingkat kematian orang berusia di atas 80 diperkirakan 14,8%, dibandingkan dengan 0,4% pada usia antara 40 dan 49, demikian menurut penelitian mereka pada kasus dan kematian hingga 13 Maret.

Tetapi bahkan di Italia, memberi jarak sosial nampaknya tetap dampak. Strategi berbeda yang diterapkan di Bergamo dan Lodi menunjukkan perbedaan mencolok dalam jumlah infeksi.

Di Lodi, kasus pertama virus corona terdeteksi pada 21 Februari, dan pembatasan perjalanan diterapkan dua hari kemudian.

“Pada 24 Februari, semua sekolah, universitas, acara budaya, rekreasi dan olahraga juga dibatalkan,” kata Dowd.

“Kasus-kasus juga mulai ditemukan di Bergamo pada 23 Februari, dan ada diskusi pers tentang pembatasan, tetapi tidak diberlakukan sampai penutupan yang lebih luas pada 8 Maret.”

Pada 7 Maret, kedua kota sama-sama punya sekitar 800 kasus. Tapi pada 13 Maret, jumlah kasus Bergamo telah meningkat menjadi sekitar 2.300 sementara Lodi hanya sekitar 1.100.

Kedua provinsi memiliki struktur usia yang sama; sekitar 21% dari populasi berusia lebih tua dari 65 tahun.

“Meskipun secara keseluruhan Bergamo memiliki populasi yang lebih besar daripada Lodi, kawasan asal mula kasus memiliki ukuran yang serupa, sehingga bisa dibandingkan untuk melihat perkembangan awal wabah,” kata Dowd.

Situasi ini sangat mirip dengan yang terjadi di Philadelphia dan Saint Louis. Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah sejarah akan terulang, kata para peneliti.

Perbedaan utamanya adalah jumlah yang mereka bandingkan di kota-kota Italia ini adalah jumlah yang terpapar virus, bukan kematian.

Hak atas foto Leverhulme Center for Demographic Science
Image caption Di Italia, kota Lodi lebih cepat menerapkan pembatasan sosial dibanding Bergamo.

“Mungkin ada hal lain yang membedakan konteks ini, seperti penyebaran super, dan jaringan sosial yang berbeda,” kata Dowd.

“Tetapi mengingat kesamaan dasarnya dan intervensi ekstrim yang terjadi di Lodi, itu kami pikir menjadi bukti untuk menunjukkan efektivitas langkah-langkah ini.”

Secara keseluruhan, kata Dowd, aman untuk mengatakan bahwa menjaga jarak memang diperlukan. “Kami melihat bukti nyata untuk efektivitas langkah-langkah ini.”

Studi lain di Washington State yang melihat penyebaran virus pernapasan secara umum (bukan Covid-19) menunjukkan bahwa menjaga jarak sosial dapat mengurangi penyebaran penyakit dalam jangka panjang juga.

Hujan salju yang luar biasa tinggi pada Februari 2019 menyebabkan penutupan sekolah dan tempat kerja secara luas. Akibatnya, jumlah kasus hingga akhir musim itu menurun 3-9%.

Masalahnya adalah, ketika orang mulai bertemu lagi, virus akan mulai menyebar dan kasus-kasus cenderung meningkat.

Itulah sebabnya kita mungkin akan melihat pendekatan buka-tutup.

Ketika penekanan jaga jarak dilonggarkan, jumlah kasus dapat meningkat. Kemudian penjagaan yang lebih serius akan dilakukan, untuk menjaga tingkat infeksi tetap ada di batas kemampuan layanan kesehatan.

Ini seperti menyalakan dan mematikan keran pandemi Covid-19 secara berkala untuk memastikan rumah sakit dan staf medis tidak kewalahan.

Tentu saja, menjauh dari teman dan keluarga tidaklah mudah, terutama selama pandemi global.

Akan ada beberapa konsekuensi sampingan yang muncu ketika menjaga jarak dengan orang lain. Dalam jangka panjang, terisolasi dari kelompok sosial terkait dengan penyakit jantung, depresi, dan demensia.

Tetapi, menjaga jarak tidak selalu berarti menghentikan semua kontak. Tidak seperti pada tahun 1918, hari ini ada banyak cara untuk tetap terhubung dengan orang yang dicintai. Teknologi telah menyediakan media sosial, aplikasi pesan, dan panggilan video online.

Dan jika cara ini bisa menjaga orang-orang yang kita cintai untuk tetap aman, pada akhirnya mungkin cara ini layak dilakukan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di BBC Future dengan judul Why social distancing might last for some time.

Related posts