Paskah 2020 di tengah epidemi virus corona: ‘Sejak zaman nenek moyang, baru kali ini kami dilarang ke gereja’

Paskah 2020 di tengah epidemi virus corona: 'Sejak zaman nenek moyang, baru kali ini kami dilarang ke gereja'

Hak atas foto Frans Nahak
Image caption Prosesi peringatan paskah di gereja GMIT, Amanuban Timor, NTT, diikuti ratusan jemaat pada tahun 2019. Seremoni dan ibadah di lingkungan gereja itu kini ditiadakan karena pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 mengubah pola ibadah jutaan umat Kristiani di Indonesia.

Untuk sementara waktu, induk gereja Kristen dan Katolik menganjurkan ibadah secara online, termasuk pada peringatan Paskah yang jatuh di pekan kedua April ini.

Namun tak semua umat Kristiani mampu mengikuti prosesi kebaktian dan ekaristi melalui sambungan internet, terutama mereka yang berada di pelosok Indonesia timur.

Ibadah kolektif di gereja-gereja yang ditiadakan ini disebut tidak pernah terjadi di Indonesia, termasuk saat keadaan genting seperti Tragedi 1965 dan kerusuhan 1998, setelah turunnya Soeharto sebagai presiden.

Frans Nahak, pendeta Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), mengaku harus memutar otak agar jemaatnya di Amanuban Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan, bersedia beribadah di rumah jelang akhir Maret lalu.

Dihuni penduduk yang mayoritas Kristiani, tradisi gereja disebutnya begitu kental di perkampungan yang berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur itu.

Namun di tengah penyebaran virus corona, Frans menyebut tak ada pilihan lain selain meniadakan ibadah di gereja, termasuk seremoni jalan salib, prosesi paskah yang biasanya diikuti ratusan jemaatnya.

Meski begitu, keputusan itu ditentang sebagian jemaatnya. Frans berkata, geger wabah Covid-19 tidak dirasakan warga kampungnya, yang sebagian besar buta aksara dan tak memiliki akses internet.

“Banyak pertanyaan dari umat. Saat diputuskan ibadah dari rumah, mereka menuduh ‘pendeta dan majelis kurang iman’, bahkan sempat ada beberapa jemaat yang ke gereja walau sudah dianjurkan kebaktian di rumah.” ujarnya, Rabu (08/04).

“Mereka tidak ikuti informasi, ada keterbatasan komunikasi. Mereka tidak mengikuti media. Jemaat saya minta bukti (bahaya Covid-19). Ada yang bilang, ‘mati di gereja pun tidak apa-apa’,” tuturnya.

Hak atas foto BBC INDONESIA/DWIKI MARTA
Image caption Sebagian besar jemaat gereja GMIT di NTT disebut tidak bisa menjangkau siaran langsung kebaktian melalui internet dan radio.

Korinus Simbala, seorang jemaat GMIT di Amanuban Timor, merasa ada yang tidak lengkap dalam kehidupannya sejak gereja tidak lagi menggelar ibadah hari Minggu.

Larangan pergi ke gereja, terutama pada peringatan Paskah, kata Korinus, sebelum ini tidak pernah muncul di kampungnya.

Menurut Korinus, kebaktian di rumah tak bisa menggantikan kekusyukan dan rasa kebersamaan ibadah di ‘rumah Tuhan’.

“Ada kerinduan besar ke gereja. tapi karena dilarang keras, kami harus sesuaikan dengan permintaan majelis sinode,” ujar Korinus.

“Kalau bukan karena masalah corona, kami lebih baik ibadah di gereja. Sejak zaman nenek moyang, tempat ibadah itu di gereja. Memang kami merasa ini aneh,” tuturnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Image caption Prosesi jalan salib yang menjadi salah satu simbol peringatan Paskah di NTT ditiadakan demi mencegah penyebaran virus corona di kalangan jemaat.

Gereja di bawah pelayanan GMIT tersebar di seluruh NTT dan sebagian Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Umat protestan yang beribadah di gereja ini mencapai sekitar 1,2 juta orang, kata Ketua Sinode GMIT, Mery Kolimon, yang memimpin semacam sidang majelis permusyawaratan di induk gereja tersebut.

Mery berkata, sejak 29 Maret lalu, semua ibadah di gereja ditiadakan. Sebagai gantinya, Sinode GMIT menggelar ibadah tanpa jemaat di gereja, yang disiarkan melalui Youtube dan Radio Republik Indonesia Pro 1 Kupang.

Namun, kebaktian online itu hanya diikuti 20% jemaat GMIT, kata Mery.

Di daerah pelosok, gereja akhirnya memasang pengeras suara agar nyanyian kidung, kotbah, hingga doa syafaat bisa didengar jemaat dari rumah mereka.

Strategi menggunakan pengeras suara ini tidak berlaku di Amanuban Timor karena menurut Pendeta Frans Nahak, jaringan listrik masih sangat terbatas di kampung mereka.

“Sebagian gereja menggunakan TOA, dua sampai tiga pengeras suara yang bisa menjangkau seluruh kampung. Jadi pendeta memimpin kebaktian dari gereja, jemaat mendengar dari rumah,” ujar Mery.

Hak atas foto BBC INDONESIA/DWIKI MARTA
Image caption Pendeta Mery Kolimon menyebut umat Kristiani di Indonesia mengalami tantangan peribadatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Keganjilan ibadah di masa pendemi ini tidak dirasakan jemaat saja. Pendeta Mery Kolimon mengaku tidak terbiasa berkotbah di gereja tanpa jemaat, meski ibadah itu direkam dan disiarkan melalui internet.

“Saat saya memimpin kebaktian, di hadapan kursi-kursi yang kosong, saya sangat sedih. Saya belajar betapa berharganya kebaktian dalam persekutuan. Ada kerinduan besar untuk beribadah bersama lagi di gereja,” tuturnya.

‘Lebih parah daripada masa pergolakan’

Selain di GMIT, Mery juga aktif dalam Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), kelompok yang dibentuknya bersama sejumlah pendeta lain untuk mengupayakan rekonsiliasi pelaku dan penyintas Tragedi 1965.

Berdasarkan keterangan yang dihimpunnya dari para jemaat gereja berusia lanjut itu, jemaat tetap bisa mengikuti ibadah di gereja pada masa pergolakan 1965, walau penangkapan dan eksekusi orang-orang yang dianggap ‘kiri’ terjadi.

“Ini pertama kali dalam sejarah GMIT yang berdiri tahun 1947, bahkan sejak kekristenan yang datang ke pulau kami pada abad ke-17.”

“Ini tidak pernah terjadi, kami selalu berbakti ke gereja, itu yang saya dengar dari para orang tua kami,” kata Mery.

“Makanya saat ini banyak jemaat yang bingung karena tidak semuanya, terutama yang di pedalaman, mengerti virus corona.”

“Ketika ada surat edaran agar tidak beribadah di gereja, banyak pertanyaan dan resistensi. Kami harus menjelaskan kenapa pengorbanan ini penting dilakukan,” ujarnya.

Hak atas foto DETIKCOM/ARI SAPUTRA
Image caption Rohaniawan Franz Magnis-Suseno menyebut gereja di Indonesia tetap menggelar ibadah untuk umum pada pergolakan tahun 1965 dan reformasi 1998.

Hal serupa pun diutarakan rohaniawan Katolik, Franz Magnis Suseno.

Di lingkup nasional, baru pada pandemi Covid-19 inilah gereja secara kolektif meniadakan ibadah tatap muka.

Tinggal di Indonesia sejak 1961 sebagai anggota misi perkumpulan rohaniawan Katolik dari ordo Serikat Yesuit, Franz menyaksikan bagaimana gereja Katolik di Jawa Tengah menghadapi Tragedi 1965.

“Tahun 1965 hanya ada kecemasan pada permulaannya. Saat itu ada desas-desus gereja akan diserang PKI, walau itu terbukti tidak betul,” kata Franz.

“Saya tahu bahwa gereja dan kompleks biarawan-biarawati kami di Girisonta, Semarang, saat itu dijaga pemuda Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Pada era reformasi tahun 1998 pun, kata Franz, gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan kebijakan meniadakan misa untuk sementara waktu.

Meski kerusuhan pecah di berbagai kota, Franz menyebut ketika itu komunitasnya tetap menggelar misa untuk umum dalam pengawalan kepolisian dan Banser NU.

“Itu ancaman yang berbeda dengan virus corona. Ini pertama kali yang kami alami. Ini situasi yang baru.”

“Tapi umat Katolik saya kira bisa menerima sehingga situasi ini tidak akan menanggu penghayatan dan perayaan hari suci Paskah, meski tentu pengalaman imannya akan berbeda dengan ibadah ke gereja,” kata Franz.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Image caption Selama pandemi Covid-19, sejumlah pendeta maupun pengurus gereja di beberapa kota dinyatakan positif tertular virus corona.

Lantas, bagaimana umat Kristiani dapat memaknai paskah dalam pandemi penyakit seperti saat ini?

“Ini kesempatan untuk kontemplasi,” ujar pendeta Mery Kolimon.

“Sebagaimana Simon dari Kirene yang diminta memikul salib ke Bukit Golgota, paskah kali ini umat Kristiani diminta menyiapkan bahu untuk memikul keprihatinan dan penderitaan dunia melawan virus corona.”

“Virus ini juga mengajarkan bahwa manusia setara, apapun latar belakang kita, kita rentan terhadap penyakit ini,” tuturnya.

Selama pandemi Covid-19, orang-orang dari komunitas gereja di berbagai kota di Indonesia dinyatakan positif tertular virus corona.

Di Jawa Barat, Persidangan Sinode Tahunan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada akhir Februari lalu menjadi salah satu kluster penyebaran virus corona.

Di provinsi yang sama, 226 peserta kegiatan Gereja Bethel Indonesia di Lembang disebut positif virus corona setelah mereka menjalani tes cepat.

Related posts