Ramadan saat karantina virus corona di London: Satu masjid antarkan makanan berbuka untuk para keluarga yang membutuhkan

Ramadan saat karantina virus corona di London: Satu masjid antarkan makanan berbuka untuk para keluarga yang membutuhkan

Hak atas foto Getty Images
Image caption Umat Muslim di Inggris diserukan untuk tidak tarawih dan buka puasa bersama di tengah karantina.

Menjelang Ramadan, Muslim di London menyesuaikan dengan situasi pembatasan gerak di luar rumahyang ditetapkan pemerintah Inggris. Salah satu kegiatan yang direncanakan satu masjid adalahmengantar makanan ke rumah-rumah keluarga yang membutuhkan.

Dewan Muslim Inggris (The Muslim Council of Britain) sudah mengeluarkan peringatan kepada kaum Muslim di Inggris bahwa Ramadan tahun ini akan berbeda.

Dewan Muslim sudah menyerukan agar kaum Muslim tidak menyelenggarakan salat tarawih berjamaah dan buka puasa bersama, serta menggantinya dengan buka bersama secara daring.

Untuk menu berbuka, Dewan juga menyarankan agar direncanakan dengan baik sehingga kaum Muslim tidak perlu sering-sering keluar berbelanja kebutuhan.

Inggris menerapkan karantina sejak minggu terakhir Maret dan dijadwalkan akan tetap diterapkan sampai minggu pertama bulan Mei.

Kasus infeksi corona sampai Kamis (23/04) di Inggris mencapai lebih dari 133.000 dengan kematian mencapai 18.100.

Mengantar makanan berbuka

Salah satu masjid di kawasan Stanmore, di barat laut London, masjid Hujjat mengubah acara buka bersama mereka dengan cara mengantar makanan ke lebih dari 150 keluarga yang membutuhkan.

Bahan makanan ini berasal dari sumbangan, dan pengolahannya dilakukan oleh restoran di kawasan setempat. Sedangkan pengantaran makanan dilakukan oleh para sukarelawan.

“Menurut saya, situasi sulit ini membuat kita melihat hal-hal terbaik muncul dari banyak orang,” kata Asim Nurmohamed, salah satu pengurus masjid.

“Sudah terkumpul 200 orang relawan dalam 48 jam ini, dan rasanya ini luar biasa,” katanya lagi.

“Biasanya kami menyediakan menu berbuka untuk 1.500 orang di masjid kami sepanjang bulan Ramadan dan banyak orang yang benar-benar mengandalkan makan dari situ”.

Harapannya, mereka bisa menjangkau 200 rumah setiap malam selama Ramadan, dengan sudah ada 1.000 orang menyatakan minat.

Seperti banyak masjid lainnya, Mesjid Hujjat telah mengadakan ceramah dan kelas daring menjelang Ramadan dan akan terus melakukan hal ini sepanjang bulan suci bagi kaum Muslim tersebut.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Tenda Ramadan, proyek yang digagas mahasiswa Muslim dan non-Muslim di London.

Kegiatan tahunan lain yang biasa dilakukan di Inggris, seperti Tenda Ramadan yang digagas para mahasiswa, juga dialihkan menjadi kegiatan daring. Makanan untuk buka puasa juga diantarkan untuk mereka yang memerlukan.

Hak atas foto Rooful Ali Aliway
Image caption Tenda Ramadan, kegiatan yang dididirkan para mahasiswa sejak 2012 dijadikan kegiatan daring selama karantina.

Kegiatan yang digagas para mahasiswa dan dimulai sejak 2012 ini ditujukan untuk “mengangkat kesadaran dan pengetahuan tentang Islam” dan para undangan termasuk warga non-Muslim.

Buka bersama daring

Kedutaan Besar Republik Indonesia di London juga mengubah kebiasaan buka bersama dan ceramah pada saat Ramadan.

Biasanya setiap Ramadan KBRI mengadakan buka bersama yang diiringi ceramah dan salat tarawih berjamaah di kantor KBRI di kawasan Westminster, di pusat London.

Namun kali ini KBRI London mengadakan ceramah dan buka puasa virtual atau e-ifthar bekerjasama dengan beberapa organisasi keagamaan.

Selama bulan Ramadan, KBRI merencanakan akan mengadakan delapan kali ceramah daring dengan menggunakan fasilitas konferensi video.

Belajar dari puasa

Kelompok lain yang juga akan memperluas kegiatan mereka selama Ramadan adalah Asosiasi Pemuda Muslim Ahmadiyyah (AMYA), yang selama ini telah mengadakan kelas kebugaran dan kegiatan amal. Mereka berencana akan memperluas kegiatan selama Ramadan.

Abdul Lodhi, Direktur amal di AMYA mengatakan umumnya mereka mengadakan acara buka bersama dan ceramah mengenai Islam dan ibadah Ramadan selama bulan suci, tetapi mereka akan menggantinya dengan acara daring.

“Satu hal yang kami rasa bisa membantu di tengah ketidakpastian ini adalah hikmah dari puasa bisa diterapkan dalam situasi karantina seperti ini,” kata Lodhi, yang tinggal di Cheshire, Lancashire.

“Keadaan karantina ini bisa dibilan mirip puasa. Ini lebih dari sekadar berlapar-lapar, ada makna lebih ketimbang itu. Kita diminta untuk tidak bicara yang tidak perlu, tidak menggunakan kata-kata kotor, tidak menonton TV kalau tidak perlu.”

“Saya rasa daya tahan merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat saat-saat seperti sekarang.”

Ceramah melalui Instagram

Hak atas foto Sabah Ahmedi
Image caption Imam Sabah Ahmedi ikut menyerukan agar jemaah tetap di rumah.

Seorang imam yang tinggal di London, Sabah Ahmedi, 26 tahun, mengatakan Ramadan kali ini akan berat bagi kaum Muslim karena tidak bisa beribadah secara berjamaah. Ia sendiri akan menggunakan Instagram untuk kelas-kelas ceramah dan beribadah bersama.

“Ramadan adalah saatnya meningkatkan keimanan dan kedekatan dengan Tuhan dan kita diberi waktu untuk merenung, dan ini adalah saatnya,” katanya.

Namun menurutnya pesan terpenting yang harus disampaikan adalah agar semua orang tinggal di rumah masing-masing dan tidak mencoba mengunjungi saudara atau ke masjid, yang akan ditutup, katanya.

Dokter di garis depan Covid-19: “Sedih, saya ingin sekali puasa”

Hak atas foto Kiran Rahim
Image caption Dr Kiran Rahim mengatakan mengenakan pakaian khusus dibatasi dua jam untuk minum dan ia merasa sedih karena tak bisa puasa.

Bagi Dr Kiran Rahim, Ramadan kali ini baginya adalah menghabiskan waktu di belakang masker yang gerah di ruang rawat intensif untuk para pasien Covid-19.

Biasanya, dokter anak ini akan membawa anak-anaknya ke rumah ibunya untuk berbuka puasa bersama, atau bertemu dengan teman-temannya untuk berbuka bersama di restoran dekat tempat tinggalnya.

Dr Rahim yang bertugas di rumah sakit Homerton di timur laut London tidak akan berpuasa pada bulan Ramadan ini karena beratnya pekerjaannya di unit perawatan intensif.

“Banyak yang seperti saya memilih untuk tidak puasa karena bekerja di unit perawatan intensif (ITU),” kata Dr Rahim yang tinggal bersama suami dan dua anaknya.

“Tidak mudah bekerja dengan alat pelindung diri. Kami hanya bisa bekerja dua jam setiap kali sebelum harus mencopotnya untuk minum.”

Ia mengatakan rekan-rekannya yang tergabung di British Islamic Medical Association telah meminta fatwa dari ulama yang menyatakan bahwa Muslim yang bekerja untuk keperluan vital dan intens seperti itu diizinkan untuk tidak berpuasa.

“Ini melegakan, tapi sekaligus bikin sedih karena saya ingin sekali berpuasa,” katanya.

Maka bagi petugas medis yang berpuasa, berbuka puasa akan dilakukan sendirian di saat rehat dari 12 jam giliran kerja mereka, yang sangat berbeda dari giliran kerja yang biasanya mereka lakukan.

Pembatasan gerak sudah diberlakukan setidaknya sampai tanggal 7 Mei, dan Dr Rahim, 33 tahun, mengatakan ia menduga bahwa Idul Fitri tahun ini juga tidak bisa dirayakan seperti biasanya.

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

IKUTI LAPORAN KHUSUS TERKAIT VIRUS CORONA

Related posts