Dampak virus corona, Arab Saudi cabut tunjangan hidup PNS dan naikkan PPN tiga kali lipat

Dampak virus corona, Arab Saudi cabut tunjangan hidup PNS dan naikkan PPN tiga kali lipat

Hak atas foto Getty Images
Image caption Arab Saudi menempuh penghematan ganda sekaligus di tengah penurunan harga minyak yang menjadi andalan pemasukan.

Arab Saudi menghentikan sementara tunjangan hidup bagi sekitar 1,5 juta pegawai negeri mulai 1 Juni dan menaikkan pajak pertambahan nilai dari 5% menjadi 15% mulai 1 Juli sebagai akibat dari pandemi virus corona, termasuk penurunan harga minyak yang selama ini menjadi tumpuan ekonominya.

Menteri Keuangan Mohammed Al-Jadaan mengatakan kedua langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menopang keuangan negara.

“Langkah-langkah ini menyakitkan tetapi diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan dan ekonomi jangka menengah dan jangka panjang… dan mengatasi krisis virus corona dengan kerusakan sedikit mungkin,” jelas al-Jadaan, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara itu SPA, Senin (11/05).

Arab Saudi pertama kali memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) sekitar dua tahun lalu untuk mengurangi ketergantungan pendapatan pada minyak.

Pada waktu hampir bersamaan, pemerintah memberikan tunjangan hidup 1.000 riyal atau setara dengan Rp4 juta per bulan bagi setiap pegawa negeri untuk meringankan beban akibat kenaikan PPN dan kenaikan bahan bakar minyak.

Sekitar 1,5 juta orang bekerja di sektor pemerintah, berdasarkan data resmi keluaran Desember 2019.

Hak atas foto Reuters
Image caption Penghematan yang dilakukan Arab Saudi mengancam kelanjutan Visi 2030 untuk menyulap perekonomian.

Hingga Minggu (10/05) jumlah warga yang terinfeksi virus corona di Arab Saudi mencapai 39.048 dan jumlah kematian tercatat 246 orang.

Arab Saudi menempuh langkah-langkah awal dan drastis untuk mengatasi penyebaran virus corona, dan sejauh ini belum ada kepastian apakah negara itu akan mengizinkan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

Penerimaan turun, proyek putra mahkota terancam

Pengumuman penghematan ganda ini dikeluarkan tidak lama setelah belanja negara kerajaan itu melebihi pendapatan sehingga negara mengalami defisit sebesar US$9 miliar, sekitar Rp134 triliun, selama tiga bulan tahun ini saja.

Hal itu terjadi karena pendapatan minyak turun hampir 25% dibanding tahun sebelumnya menjadi US$34 miliar sehingga secara keseluruhan pendapatan negara turun 22%.

Hak atas foto Reuters
Image caption Penawaran umum perdana Aramco dilakukan pada 11 Desember tahun 2019 di Riyadh.

Langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi dampak pandemi ini diperkirakan akan menghambat laju dan skala reformasi ekonomi yang dicanangkan oleh Pangeran Mohammed bin Salman.

Tahun lalu Arab Saudi berhasil menggalang dana US$25,6 miliar melalui penawaran umum perdana perusahaan minyak negara, Aramco.

Penawaran itu menjadi tumpuan dari rencana Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk memodernkan ekonomi dan perlahan-lahan mengurangi ketergantungan pada penjualan minyak dalam program yang disebut Visi 2030.

Related posts