Virus corona: Wuhan menyusun rencana untuk mengetes seluruh penduduknya yang berjumlah 11 juta orang

Virus corona: Wuhan menyusun rencana untuk mengetes seluruh penduduknya yang berjumlah 11 juta orang

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wuhan berpenduduk 11 juta jiwa, lebih besar dibandingkan kota-kota lain di dunia seperti London.

Pemerintah Kota Wuhan, China, menyusun rencana untuk melakukan tes massal Covid-19 terhadap 11 juta penduduknya, lapor media pemerintah setempat.

Rencana itu dilaporkan masih berada pada tahap awal. Menurut surat kabar The Paper yang mengutip sejumlah dokumen, setiap distrik di Wuhan diperintahkan untuk merancang rencana pengetesan dalam waktu 10 hari, paling lambat Selasa ini (12/05).

Setiap distrik diharuskan membuat rencana masing-masing sesuai dengan jumlah penduduk dan tergantung pada apakah sekarang muncul kasus baru di wilayah itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemberlakuan karantina wilayah yang ketat di Wuhan dicabut pada tanggal 8 April dan kehidupan berangsur-angsur pulih.

Dokumen yang beredar menyebut rencana pengetesan massal itu sebagai “pertempuran selama 10 hari”. Disebutkan penduduk usia lanjut dan perkampungan padat harus didahulukan dalam pengetesan ini.

Namun sejumlah pejabat yang dikutip surat kabar Global Times mengisyaratkan bahwa pengetesan skala besar di seluruh kota akan memakan biaya besar dan tidak mungkin dilakukan.

Kasus baru Covid-19

Rencana ini muncul setelah Wuhan melaporkan enam kasus baru padahal kota itu tidak mengalami infeksi baru sejak 3 April.

Hak atas foto Kevin Frayer/Getty
Image caption Seorang bocah perempuan menaiki tangga di salah-satu lokasi wisata yang baru dibuka di Beijing, Kota Terlarang, di kompleks istana di Beijing, 7 Mei lalu.

Kasus baru di Wuhan itu masuk dalam data pemerintah China yang menyebutkan ada 17 kasus baru Covid-19 pada Senin (11/05), menandai kenaikan harian tertinggi sejak 28 April lalu,.

Padahal, pekan lalu, kantor berita Xinhua melaporkan tidak terdapat kasus positif Covid-19 di seluruh Provinsi Hubei, termasuk ibu kotanya, Wuhan, selama 32 hari.

Atas dasar itu, berbagai sekolah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali beraktivitas, walau terbatas untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal menghadapi ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Keberadaan kasus-kasus baru, seperti dilaporkan kantor berita AFP, memunculkan kekhawatiran adanya gelombang baru penyebaran virus di kota Shulan di Provinsi Jilin.

Sebanyak 11 kasus baru muncul di Shulan sehingga pemerintah China memutuskan untuk memberlakukan karantina wilayah atau lockdown di kota itu.

Validitas data dipertanyakan

Kasus-kasus ini terkait dengan seorang perempuan yang bekerja di binatu. Perempuan berusia 45 tahun itu menularkan virus ke suaminya, adik-adiknya, dan beberapa kerabat.

Shulan berada dekat perbatasan Korea Utara, yang mengklaim tidak menangani satu pun kasus Covid-19.

Secara keseluruhan, China terus mengalami penurunan jumlah infeksi baru virus corona. Ada 12 kasus tanpa gejala dan tidak ada kematian baru.

Hak atas foto Kevin Frayer/Getty
Image caption Petugas keamanan melakukan penjagaan di salah-satu bangunan di Kota Terlarang, kompleks istana di Beijing, 7 Mei lalu, yang mulai rami dikunjungi wisatawan.

Jumlah total kasus virus corona yang dikonfirmasi saat ini di China telah mencapai 82.918. Adapun jumlah korban meninggal di negara itu yang tercatat tetap 4.633.

Sejumlah negara, seperti AS, sebelumnya mempertanyakan validitas data yang dibuka oleh pemerintah China.

AS juga menuding bahwa virus corona berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, China, meski intelijen AS sebelumnya menegaskan virus itu bukanlah buatan manusia.

Semenjak kebijakan lockdown dilonggarkan, sekitar 85 juta warga China berbondong-bondong pergi ke lokasi-lokasi wisata utama di negara itu dalam tiga hari pertama liburan Hari Buruh (May Day), yang berlangsung lima hari, dimulai Jumat lalu (01/05).

Dilansir dari kantor berita Reuters, lonjakan pariwisata itu didominasi peningkatan jumlah pelancong dari Wuhan, Beijing, Dalian, Tianjin, dan Jinan, menyusul aturan karantina wilayah yang dilonggarkan karena menurunnya angka Covid-19 di China.

Ratusan tempat wisata juga telah dibuka kembali, termasuk di Kota Terlarang di Beijing.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para murid-murid senior kembali bersekolah di Wuhan, Rabu (06/05).

Berbagai sekolah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali beraktivitas, Rabu (06/05).

Aktivitas itu berlangsung setelah kota yang disebut sebagai tempat asal-muasal virus corona itu mengklaim bebas kasus Covid-19 selama 32 hari terakhir.

Meski begitu, aktivitas sekolah-sekolah tersebut dikhususkan untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal menghadapi ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Bagi pelajar kelas 12, ujian akhir itu akan menentukan universitas yang bisa masuki pada jenjang perguruan tinggi.

Merujuk laporan kantor berita Xinhua, total pelajar yang kembali bersekolah di Wuhan mencapai 57.000 orang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seluruh sekolah di Wuhan diwajibkan menjalankan protokol Covid-19.

Di luar Wuhan, mayoritas pelajar kelas 12 lebih dulu kembali ke sekolah sejak awal Maret lalu.

Di seluruh Provinsi Hubei, setiap pelajar wajib menjalani tes virus corona sebelum diizinkan mengikuti aktivitas belajar-mengajar.

Sementara pihak sekolah diwajibkan menjalankan protokol kesehatan seperti jaga jarak di kelas dan kantin.

Belakangan, pemerintah China mengendorkan berbagai pembatasan sosial untuk mengembalikan situasi ke kondisi normal.

Di Korea Selatan, kekhawatiran akan gelombang kedua telah mendorong pembatasan baru, setelah serangkaian transmisi baru terkait dengan distrik kehidupan malam Seoul.

Related posts