Donald Trump dan ‘musim kegelapan’: Joe Biden, calon presiden dari Partai Demokrat sebut AS ‘terlalu banyak ketakutan, terlalu banyak perpecahan’

Donald Trump dan 'musim kegelapan': Joe Biden, calon presiden dari Partai Demokrat sebut AS 'terlalu banyak ketakutan, terlalu banyak perpecahan'

Keterangan gambar,

Calon presiden AS Joe Biden menerima nominasi presiden dari Partai Demokrat tahun 2020 dalam pidatonya.

Calon Presiden Amerika Serikat yang dinominasikan oleh Partai Demokrat, Joe Biden, menuding presiden saat ini, Donald Trump, telah “menyelubungi Amerika dalam kegelapan di waktu yang lama”.

Mantan wakil presiden AS itu mengatakan saingannya dari Partai Republik itu telah melepaskan “terlalu banyak kemarahan, terlalu banyak ketakutan, dan terlalu banyak perpecahan” untuk Amerika.

Pidato berapi-api Biden itu adalah salah satu momen tertinggi dalam karir politiknya yang hampir setengah abad.

Namun tidak ada dekorasi balon dan teriakan pendukung atau bentuk sambutan lain seperti yang biasa terjadi dalam konperensi partai Amerika. Ini dilakukan di tengah pandemi virus corona.

Pihak penyelenggara memilih melakukan konperensi virtual dengan sebagaian besar pidato yang telah direkam dalam program selama dua jam.

Peluang Biden, 77 tahun, untuk menduduki kursi utama Gedung Putih lebih unggul dibandingkan Trump, 74 tahun, berdasarkan jajak pendapat sejauh ini.

Tetapi dengan sisa waktu 75 hari lagi hingga pemilihan presiden, semua masih bisa berubah.

Apa yang Biden katakan?

Berdiri di arena yang sebagian besar kosong, di kampung halamannya di Wilmington, Delaware, Biden berkata: “Di sini dan sekarang, saya berjanji, jika Anda mempercayakan saya menjadi presiden, saya akan menunjukan yang terbaik dari kita, bukan yang terburuk.

“Saya akan menjadi mitra dalam suasana terang, bukan kegelapan.

“Sudah waktunya bagi kita, untuk kita, rakyat (Amerika) bersatu. Dan tidak membuat kesalahan, bersatu kita mampu dan akan mengatasi musim kegelapan di Amerika ini.

“Kita akan memilih harapan daripada ketakutan, fakta daripada fiksi, keadilan di atas keistimewaan.”

Biden mengatakan “karakter Amerika ada di pemungutan suara” November ini.

“Kita bisa memilih jalan yang akan membuat kita menjadi pemarah, kurang berharap, terpecah belah, berjalan dalam bayangan dan kecurigaan,” katanya.

“Atau, atau, kita dapat memilih jalan yang berbeda dan bersama-sama mengambil kesempatan ini untuk menyembuhkan, membentuk kembali, mempersatukan. Jalan harapan dan cahaya.

“Ini adalah pemilu yang akan mengubah hidup kita. Ini akan menentukan seperti apa Amerika ke depan untuk waktu yang sangat lama.”

Biden berjanji akan menyembuhkan Amerika yang lumpuh akibat pandemi yang mematikan, bencana ekonomi, dan terpecah belah akibat isu rasial.

Dia melanjutkan: “Apa yang kita ketahui tentang presiden ini [Trump] adalah jika dia diberikan kesempatan empat tahun lagi maka dia tetap sama.

“Seorang presiden yang tidak bertanggung jawab, menolak untuk memimpin, menyalahkan orang lain, berteman dengan para dictator, mengobarkan api kebencian dan perpecahan.

Keterangan gambar,

Biden bergabung di atas panggung setelah pidato bersmaa istrinya, Jill, dan Kamala Harris – yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden – dan suaminya, Doug Emhoff

“Dia akan bangun setiap hari meyakini semua pekerjaan ini tentang dia, bukan tentang Anda.

“Itukah Amerika yang Anda inginkan, keluarga Anda, dan anak-anak Anda?”

Merujuk pada jumlah kematian akibat infeksi virus corona di Amerika, Biden berkata: “Presiden kita saat ini telah gagal menjalankan tugas paling mendasar kepada bangsa: ia gagal melindungi kita.”

Mengutip penyair Irlandia Seamus Heaney, Biden menyimpulkan: “Ini adalah momen bagi kita untuk membuat harapan dan sejarah menjadi sesuatu yang sejalan.”

Pidato Biden

Sebut saja, pernyataan itu sebagai pidato “kembali ke keadaan normal” Joe Biden.

Itulah slogan kampanye Warren G Harding ketika mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 1920, dengan kampanye yang berpusat pada penyembuhan dan menenangkan orang Amerika yang trauma usai Perang Dunia Pertama.

Harding menyampaikan pesan kesembuhan, ketenangan dan pemulihan, atau dalam istilah modern sebagai sebuah akhir dari semua drama.

Sementara itu, Biden menyebut kampanyenya sebagai “pertempuran bagi jiwa bangsa Amerika”, tetapi pesannya pada Kamis malam lalu- pesan dari banyak pembicara Partai Demokrat minggu ini – tidak jauh berbeda dari pesan Harding.

Ada banyak tekanan di pundak Biden dalam menyampaikan pidato ini, terutama ketika Partai Republik menyebut pria 77 tahun itu mengalami penurunan fisik atau “melemah”.

Namun, mantan wakil presiden Obama ini menunjukan kemampuannya. Dia marah ketika harus marah, dan meyakinkan ketika dibutuhkan.

Biden memberikan pidato yang memiliki pesan mendalam dengan cara yang kuat. Jika dia kalah pada November mendatang maka bukan karena apa pun yang terjadi pada Kamis malam atau di konvensi Partai Demokrat minggu ini.

Apa lagi yang terjadi di konvensi?

Pidato Biden itu menandai akhir dari konferensi empat malam Partai Demokrat.

Tidak ada balon yang jatuh, kerumunan yang bersorak-sorai, atau keriuhan dan kemewahan lainnya yang menjadi tipikal konferensi partai khas di Amerika, karena pandemi virus corona.

Sebagai gantinya, penyelenggara konferensi memilih untuk menggunakan jalur virtual yang direkam sebelumnya dan diolah menjadi program dua jam setiap malam.

Titik puncak konvensi pada Kamis malam itu di dibawakan oleh aktris Julia Louis-Dreyfus, bintang satir politik AS Veep dan kritikus vokal Trump.

Sepanjang malam, politikus-politikus Demokrat yang bersaing dengan Biden dalam pencalonan sebelumnya memuji kepemimpinannya.

Beberapa dari mantan saingan itu – Senator AS Bernie Sanders, Elizabeth Warren, Amy Klobuchar dan Cory Booker; mantan anggota kongres Beto O’Rourke, mantan South Bend, Indiana, walikota Pete Buttigieg dan pengusaha Andrew Yang – adalah barisan yang mungkin mendapatkan posisi di pemerintahan Biden.

Para pembicara dalam konvensi selama tiga malam terakhir menggambarkan Trump sebagai orang yang tidak kompeten, egois dan berbahaya bagi demokrasi, dan memohon orang Amerika untuk mengeluarkannya dari Gedung Putih- nada yang digaungkan Biden.

Pada Rabu lalu, pasangannya, Senator California Kamala Harris, menjadi perempuan kulit hitam pertama yang dinominasikan menjadi wakil presiden dari partai besar.

Putri imigran India dan Jamaika itu menyerang “kegagalan kepemimpinan” Trump dan menyuarakan seruan keadilan rasial yang telah mengguncang negara.

“Tidak ada vaksin untuk rasisme. Kita semua yang harus bekerja untuk itu,” kata perempuan berusia 55 tahun itu, menambahkan: “Tidak ada dari kita yang bebas sampai kita semua bebas.”

Bagaimana tanggapan Trump?

Sebelumnya pada hari Kamis, Trump – yang menjuluki penantangnya “Joe yang lambat” dan “Joe yang mengantuk” – mengunjungi tempat kelahiran Biden di Scranton, Pennsylvania, negara bagian yang pemilihnya berubah-ubah atau swing voters.

“Biden bukan teman Pennsylvania,” kata Trump, yang menuduh lawannya menghancurkan lapangan pekerjaan Amerika melalui kesepakatan perdagangan global, kesepakatan iklim Paris, dan rencana energi bersih.

Trump mengatakan: “Jika Anda menginginkan sebuah visi masa depan di bawah kepresidenan Biden maka pikirkan tentang reruntuhan membara di Minneapolis, anarki kekerasan Portland, trotoar Chicago berlumuran darah dan bayangkan kekacauan datang ke kota kami dan setiap kota. di Amerika.”

Ketika calon dari Partai Demokrat masih berbicara pada hari Kamis kemarin, kampanye Trump 2020 juga mengeluarkan pernyataan, yang menyebut Biden sebagai “pion sayap kiri radikal”.

Juru bicara Tim Murtaugh berkata: “Namanya ada di logo kampanye, tapi idenya datang dari ekstremis sosialis.”

Minggu depan, Trump diharapkan akan menerima pencalonannya sebagai calon presiden dari Partai Republik untuk bertarung di pemilu November mendatang.

Siapakah Joe Biden?

Biden menjadi senator AS dari Delaware pada tahun 1973, hingga naik ke kursi ketua dewan bidang peradilan dan komite hubungan luar negeri.

Setelah dua kali gagal menjadi calon presiden pada 1988 dan 2008, ia kemudian menjadi wakil presiden untuk Barack Obama, presiden kulit hitam pertama negara itu. Ia menjabat sebagai wakil Obama dari 2009-2017.

Bulan Februari kemarin, pencalonan ketiga Biden untuk menjadi calon Demokrat Gedung Putih tampak di ambang kehancuran.

Namun, pemilih kulit hitam di pemilihan primer Carolina Selatan menghadiahinya dengan kemenangan yang membuat pencalonannya menjadi tak terelakkan dalam semalam.

Biden telah menghadapi banyak keraguaan seperti usia yang tua, membuat ia menjadi presiden tertua jika terpilih, dan isu lainnya.

Tapi dia mampu mengerahkan sayap partainya yang progresif dan untuk meyakinkan pemilih Demokrat bahwa dia memiliki peluang terbaik untuk mengalahkan Trump.

Related posts