‘Paduan spirit keislaman dan sosialisme’ di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: ‘Susah dan senang, kami tanggung bersama’

'Paduan spirit keislaman dan sosialisme' di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: 'Susah dan senang, kami tanggung bersama'

Keterangan gambar,

Sejumlah ibu rumah tangga memasak makanan di dapur umum Kampung Matfa, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (03/08).

Sebuah kampung di Langkat, Sumatra Utara dinamai Kampung Majelis Ta’lim Fardhu — lazim disebut Kampung Matfa — yang menjalankan kebersamaan dan kesamarataan yang disebut seorang sosiolog mencoba memadukan antara spirit keislaman dan sebagian nilai-nilai yang bercorak sosialisme.

Hari itu, Rabu (22/07), sejumlah perempuan berkumpul dan terlihat serius melakukan pekerjaan masing-masing.

Sebagian di antara mereka tengah membersihkan sisik ikan. Sementara yang lain tampak fokus mengaduk olahan sayur di wajan besar.

Di sebelahnya, perempuan-perempuan lain bersenda gurau sembari membungkus makanan. Ada juga yang baru saja selesai memasak beras serta air.

Hari itu merupakan jadwal bagi mereka menyiapkan kebutuhan lauk untuk seluruh warga.

Keterangan gambar,

Puluhan murid Madrasah Tsanawiyah sedang belajar membaca Al Quran di Kampung Matfa.

Dapur umum, begitu mereka menyebutnya. Ruang terbuka seluas 10×10 meter yang merupakan pusat pengolahan makan dan minum penduduk kampung. Letaknya persis di tengah persimpangan.

Setiap hari, warga melakukan pekerjaan tersebut secara bergiliran. Satu kelompok terdiri hingga 30 orang. Semua kebutuhan pangan penduduk diolah dan dimasak secara bersama.

Setelah siap, satu per satu perwakilan keluarga datang mengambil jatah makanan dan kemudian membawanya ke rumah masing-masing. Baik ketika sarapan, makan siang dan makan malam.

Dengan kata lain, menu makanan yang disantap penduduk di kampung itu selalu sama.

Inilah satu di antara keunikan Kampung Kasih Sayang alias Kampung Majelis Ta’lim Fardhu Ain atau Matfa. Semua penduduknya menjalani hidup dengan kebersamaan dan kesamarataan.

Keterangan gambar,

Warga membawa pulang jatah makan siang menuju barak, Jumat (31/07).

Kampung ini bernama asli Kampung Darussalam dan terletak di Dusun III Darat Hulu, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Wartawan Nanda Fahriza Batubara di Sumatra Utara yang melaporkan untuk BBC Indonesia, hari itu bertemu dengan Kholiqul Ritonga, akrab dipanggil Kholiq, yang dipercaya warga menjadi juru bicara Kampung Matfa.

Sebelum pindah ke Kampung Matfa, Kholiq dan keluarganya bertempat tinggal di Kompleks Perumahan Menteng Indah, Medan, Sumatera Utara.

Kisah Kholiq dan istrinya yang memilih pindah ke kampung Matfa

Kholiq, 43 tahun, lulusan ilmu teknik sipil dari perguruan tinggi swasta di Medan memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama keluarganya pada tahun 2012.

Sebelumnya, Kholiq aktif mengajar seni beladiri Aikido. Dia membuka enam Dojo atau perguruan.

Dari sini dia bertemu Prasuta Citra alias Cici, dokter gigi, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Pada 2004, keduanya menikah dan kini sudah dikaruniai dua orang anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Kecintaan Kholiq pada Aikido membawanya mengenal Kampung Matfa. Katanya, Aikido bukan seni beladiri yang hanya mengedepankan hasil pertarungan.

Keterangan gambar,

Kholiq sebelumnya aktif mengajar seni beladiri Aikido. Tak tanggung-tanggung, dia membuka enam Dojo atau perguruan.

Terdapat filosofi tersendiri yang terkandung di dalamnya. Yakni harmonisasi dengan alam, tuturnya.

Seiring mendalami Aikido, di benak Kholiq terbersit pertanyaan, “Bagaimana mengaplikasikan semua ini di kehidupan sehari-hari. Kemudian saya bertemu dan mendengar ajaran dari Tuwan Iman (pemimpin Kampung Matfa), yakni tentang bagaimana berkasih sayang,” kata Kholiq.

Bertemu pemimpin Kampung Kasih Sayang

Kholiq terkesima dengan penjelasan Tuwan Imam mengenai kalimat Bismillahirahmanirahim, kalimat yang mengandung kata pengasih dan penyayang.

Menurut Kholiq, penjelasan Tuwan Imam menjadi jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

“Akhirnya saya temukan di kampung ini bagaimana melakukan itu. Karena kecintaan dengan Aikido, kemudian muncul keinginan menjadi seorang Aikido yang baik,” katanya

“Sesuai kata pendirinya, adalah menyatu dengan alam, tidak bersinggungan dengan yang lain. Nah, semua konteks ini ternyata ada dalam beragama,” sambungnya.

Kholiq juga mengaku tidak menemukan kendala dari pihak keluarga. Orangtua mereka bahkan mendukung, ungkapnya.

“Karena urusan agama, jadi orangtua support. Tak ada masalah,” katanya.

Keterangan gambar,

Pada 2012, Kholiq memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama pendatang lainnya. Mereka kemudian bergotong royong membangun permukiman.

Pada 2012, Kholiq memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama pendatang lainnya. Mereka kemudian bergotong royong membangun permukiman.

Istrinya, Cici membuka layanan kesehatan gigi di Rumah Sehat (tempat pengobatan di Kampung Matfa)

Perpindahan dari kawasan kota menuju pelosok kampung tidak menjadi hal sulit bagi Kholiq. Dia mengaku hanya perlu sekejap adaptasi.

“Mungkin karena saya memang mendapat apa yang saya cari, jadi tidak sulit. Cukup adaptasi sekadar saja,” kata Kholiq.

Pun begitu dengan istri Kholiq, Cici. Dia tidak menolak ketika pertama kali diajak suaminya pindah ke Kampung Matfa.

Padahal, Cici saat itu telah membuka praktik dokter gigi di Medan.

Menurutnya, semua itu setimpal dengan yang ia dapatkan saat ini.

“Alasan saya hijrah dengan suami agar bisa berbakti sosial dalam beragama,” kata Cici.

Cerita mantan anggota legislatif: ‘Saya menemukan apa yang saya cari’

Selain keluarga Kholiq, sejak tahun 2012, penduduk Kampung Matfa terus bertambah. Mereka datang dari segala penjuru, bukan hanya dari Sumatra Utara. Kini, ada 1.100 jiwa dari 260 kepala keluarga yang menghuni Kampung Matfa.

Latar belakang mereka beragam. Mulai dari yang dulunya petani, guru, anggota kepolisian, pengusaha, dokter hingga mantan anggota legislatif.

Salah satunya, seorang lelaki paruh baya yang kami temui saat tengah bersiap menuju masjid.

Namanya Aldi Nasution. Di kampung ini, Aldi tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia tinggal sekitar 500 meter dari tempat Kholiq.

Sebelum menjadi penduduk kampung Matfa, Aldi telah menetap di berbagai kota. Asalnya dari Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Namun ia sempat menetap di Jakarta selama beberapa tahun.

Keterangan gambar,

“Saya menemukan apa yang saya cari. Yaitu ajaran Bung Karno. Saya penasaran sekali dengan Pancasila dan agama, kandungan-kandungan di situ,” kata Aldi Nasution.

Di kampung asalnya, Aldi termasuk orang yang diperhitungkan. Dia merupakan mantan anggota legislatif pertama setelah Kabupaten Mandailing Natal mekar dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada 1999 silam.

Dalam karir politik, Aldi mengaku sempat jadi pucuk pimpinan partai di daerahnya.

Aldi menjelaskan tujuannya pindah ke Kampung Matfa, “Saya menemukan apa yang saya cari. Yaitu ajaran Bung Karno. Saya penasaran sekali dengan Pancasila dan agama, kandungan-kandungan di situ,” katanya.

Dijuluki kampung Kasih Sayang

Hampir setiap pekan, Kholiq yang jadi juru bicara Kampung Matfa selalu disibukkan dengan kedatangan sejumlah tamu dari berbagai penjuru.

Sejak beberapa tahun terakhir, kampungnya memang semakin sering disambangi sejumlah orang.

Kholiq yang berpostur kekar dengan dagu kaku serta rambut panjang yang lebih sering diikat, terlihat ramah. Dia memang menjadi ujung tombak saat para tamu datang ke kampung tersebut.

Keterangan gambar,

Seorang warga memangkas cabang pohon di perkebunan anggur di Kampung Matfa, Rabu (22/07).

Keramahan yang tampak pada Kholiq juga ditunjukkan warga Kampung Matfa, sehingga masyarakat di luar kampung itu menyebutnya sebagai ciri tersendiri.

Barangkali itulah sebabnya kampung ini dijuluki sebagai Kampung Kasih Sayang.

Di balik julukan itu, sistem sosial yang diterapkan penduduk Kampung Matfa memang didasari dua hal, kasih dan sayang. Semuanya dilakukan secara bersama-sama dan diputuskan melalui musyawarah.

Warga menetap di bangunan semi permanen yang sama bahan dan ukurannya

Di kampung ini, misalnya, warga menetap di bangunan semi permanen yang sama bahan dan ukurannya. Mereka menyebutnya barak, yang masing-masing berukuran 4×10 meter.

Konstruksinya berbahan dasar anyaman bambu, kayu dan daun rumbia. Selain dinding tepas, tidak ada lagi pemisah antar tiap rumah.

Ada ratusan barak persegi, tempat tinggal warga yang disusun memanjang dan saling berdampingan satu dan yang lain, membentuk lorong panjang.

Keterangan gambar,

Kampung Matfa juga memiliki layanan kesehatan yang dinamakan Rumah Sehat serta sekolah sendiri.

Setiap lorong barak memiliki koordinator yang akan mendata kebutuhan untuk kemudian dilaporkan dan dipenuhi.

Ya, di kampung ini warga tak terlalu memusingkan pemenuhan kebutuhan. Kampung Matfa mengupayakan kemandirian. Seluruh kebutuhan dicukupi dari hasil produksi berbagai sektor yang dikelola sendiri oleh warga.

Di lahan seluas tak lebih dari 20 hektare itu, mereka mengelola lahan pertanian seluas total 7 hektare. Selain ada itu, 15 kolam ikan, peternakan kambing dan ayam, usaha perbengkelan dan lain sebagainya.

Masyarakat juga mengelola industri batu bata, industri tahu kedelai dan dalam waktu dekat akan memasarkan air mineral.

Semua sektor ini dikelola warga berdasarkan keahlian masing-masing. Seperti yang dilakukan Mulyanto, lelaki usia 53 tahun, yang senang bertani. Dulu, ia bekerja sebagai pegawai honorer di instansi pemerintah dan tinggal di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Sama seperti sebagian besar penduduk lain, Mulyanto dan keluarga juga pindah pada 2012 silam dengan alasan serupa, “Ingin menjadi lebih baik.”

Keterangan gambar,

Para kaum ibu mengolah jajanan tradisional di Kampung Matfa.

Sementara para perempuan di kampung ini tergabung dalam kelompok usaha mikro yang memproduksi berbagai macam jajanan tradisional.

“Jadi kami ibu-ibu di sini membuat jajanan tradisional dan kemudian dijual ke pasar. Hasilnya nanti akan dimasukkan ke Baitul Mal,” kata seorang perempuan, Siti Syarah.

Baitul Mal, sumber dana warga

Bermacam komoditas yang dikelola warga dijual ke pasar di kota maupun pasar terbuka yang dibangun penduduk di Kampung Matfa. Hasil penjualan langsung disetor ke badan pengelolaan keuangan yang disebut Baitul Mal.

Dari Baitul Mal inilah semua sumber biaya kebutuhan warga berasal. Bukan hanya untuk makan dan minum, kebutuhan lain mulai dari sikat gigi hingga pesta pernikahan pun dipenuhi dari Baitul Mal.

Kampung Matfa juga memiliki layanan kesehatan yang dinamakan Rumah Sehat serta sekolah sendiri.

Tidak ada pungutan sama sekali. Semua pelayanan tersebut digratiskan bagi warga, dengan sumber dana dari Baitul Mal.

Sekolah di kampung ini bertempat di masjid dan dikelola oleh 50 orang guru yang berbagi tugas sesuai latar belakang disiplin ilmu masing-masing.

Keterangan gambar,

Seorang lelaki menyiram tumbuhan bayam di ladang pertanian Kampung Matfa.

Hampir separuhnya mengajar di level taman kanak-kanak dan play group, sementara sisanya mengajar Madrasah Ibtidaiyah-setara Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah-setara Sekolah Menengah Pertama, serta Madrasah Aliyah-setara Sekolah Menengah Atas.

Lembaga pendidikan Kampung Matfa bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Pembangunan.

“Saat ini belajar Bahasa Inggris, tadi belajar baca Al Quran,” kata seorang murid madrasah, Khairunnisa.

Asal mula Kampung Matfa

“Di sini kita tidak hanya bicara dunia, tapi juga sosial,” kata Kholiq saat berbincang di teras baraknya dengan wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Beberapa saat berbincang, ponsel Kholiq berdering. Seseorang menghubungi dan memintanya segera bergegas ke ujung kampung.

Setelah melewati jalan tanah sempit serta berbukit, di kejauhan terlihat seorang pemuda berkaos hitam dengan rambut panjang terikat sedang berdiri dan dikelilingi sejumlah lelaki.

Mereka baru saja menggali sepetak lahan untuk dimanfaatkan jadi kolam ikan.

Sebelum tiba di lokasi, Kholiq menceritakan awal dari segala keunikan di Kampung Matfa. Semuanya bemula pada era 1970-an silam.

Kala itu, hidup seorang ulama kharismatik bergelar Yang Mulia Tuan Guru. Nama aslinya KH. Ali Mas’ud bin Abdullah.

Tuan Guru disebut bukan ulama sembarang di daerah itu. Kholiq menuturkan, selama berdakwah, dia telah memiliki puluhan ribu jemaah yang tidak hanya berasal dari dalam negeri.

Keterangan gambar,

Seorang warga menyetor hasil penjualan ternak ikan lele ke Baitul Mal Kampung Matfa.

Dulu, kampung itu masih hutan. Tuan Guru datang dan kemudian membuka lahan untuk ditinggali keluarganya.

Selang beberapa tahun kemudian, Tuan Guru membangun masjid bertingkat dua dengan bercorak kuning-hijau.

Para muridnya sering datang untuk mengikuti pengajian ataupun sekadar silaturahmi.

Pada 2011, Tuan Guru berpulang, menyusul istrinya yang telah meninggal lebih dulu, dan meninggalkan 10 orang anak. Salah satu putranya kini jadi penerus.

Siapa Tuwan Imam, yang dipanggil Yang Mulia?

Sosok penerus itulah pemuda yang ada di depan Kholiq di lokasi calon kolam ikan. Pemuda berkaos hitam dengan rambut panjang terikat yang digelari Yang Mulia Tuwan Imam. Nama aslinya Muhammad Imam Hanafi, lahir di Kampung Matfa pada tahun 1988.

Ya, usia Tuwan Imam memang terbilang muda, baru menginjak 32 tahun. Namun ia dinilai warga punya kelebihan yang jarang dimiliki orang seumurannya, warisan kharisma dari sang ayah.

Keterangan gambar,

Foto ayah dan ibu kandung dari Tuwan Imam, pengelola Kampung Kasih Sayang.

Adalah para warga yang berembuk dan sepakat mengusulkan Tuwan Imam menjadi pemimpin umat.

Ketika berbincang di atas bukit yang ditanami rambutan, Tuwan Imam menjelaskan pemikirannya mengenai Kampung Matfa.

Untuk dapat menjalani kehidupan seperti ini, kata Tuwan Imam, kata kuncinya ikhlas.

Mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Penduduk membiasakan diri untuk melandasi semua tindakan dengan kasih dan sayang.

Keterangan gambar,

Dua dari puluhan wanita yang mendapat giliran piket memasak kebutuhan makan seluruh penduduk Kampung Matfa, Rabu (22/07).

Bahkan, warga dilarang tidak bertegur sapa selama tiga hari meski punya masalah.

“Kalau kita hidup hanya mengutamakan harta benda dan kekuasaan, maka itu (ketidakadilan sosial) akan terus terjadi. Kalau manusia hanya memikirkan harta kekayaan, maka kita akan dipecah belah dan dikotak-kotakkan seperti ini,” ujarnya.

Menurut Tuwan Imam, Islam juga mengajarkan penganutnya agar menjalin hubungan antara semana manusia.

Hablumminallah, hablumminannas. Jadi bukan hanya kepada Allah, Islam mengajarkan agar manusia juga membangun hubungan baik dengan sesama manusia,” ujar Tuwan Imam.

‘Memadukan ajaran Islam dan sosialisme’ ala HOS Tjokroaminoto’

Wakil Bupati Langkat Syah Afandin mengaku sudah mendengar tentang keunikan Kampung Matfa.

Dia mengagumi kemandirian ekonomi di kampung itu.

“Kampungnya memang mandiri, semua sektor dikelola secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Saya juga sudah pernah ke sana,” kata Afandin.

Menurut Sosiolog Universitas Sumatra Utara Profesor Badaruddin, perpaduan ajaran Islam dan sosialisme seperti yang diterapkan di Kampung Matfa, sebenarnya sudah dibahas oleh HOS Tjokroaminoto.

Bahkan, lelaki yang pernah memimpin organisasi besar Sarekat Islam itu juga telah menuliskannya menjadi buku dengan judul yang sama dan terbit pada November 1924.

Badaruddin menjelaskan, ada beberapa hal dalam paham sosialisme yang sejalan dengan ajaran Islam. Namun begitu ada pula yang bertentangan.

“Tjokroaminoto juga tidak mutlak menyepakati semua pemikiran Karl Marx. Misalnya paham yang tidak meyakini adanya Tuhan,” kata Badaruddin.

Pada Islam dan Sosialisme, Tjokroaminoto menegaskan bahwa sosialisme bisa menyebabkan sesat jika tidak dilandasi dengan agama.

“Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama, karena segala apa saja yang ada hanyalah berasal atau dijadikan oleh satu kekuatan atau satu kekuasaan, ialah Allah Yang Maha Kuasa,” tulisnya.

Related posts