Serangan 11 September 2001: al-Qaeda kini ‘terpecah belah’, di negara mana mereka masih kuat?

Serangan 11 September 2001: al-Qaeda kini 'terpecah belah', di negara mana mereka masih kuat?
  • Mina Al-Lami
  • Spesialis media jihadis, BBC Monitoring

Keterangan gambar,

Serangan 11 September yang dilakukan Al-Qaeda adalah serangan paling mematikan dalam sejarah AS

Sembilan belas tahun sejak serangan 11 September di Amerika Serikat, pelakunya, kelompok jihadis al-Qaeda yang dulu berbasis di Afghanistan, kini terpecah belah.

Cabang al-Qaeda di Suriah dibungkam oleh pasukan musuh Juni lalu; mereka kalah dari pemberontak di Yaman, setelah kehilangan pemimpinnya yang tewas dalam serangan dron AS; dan pemimpinnya di Afrika Utara tewas dalam serbuan tentara Perancis di Mali Juni lalu dan posisinya kini belum tergantikan.

Sementara itu, pemimpin al-Qaeda Ayman al-Zawahiri, absen selama berbulan-bulan, hal yang tak biasa ia lakukan. Ini memunculkan spekulasi bahwa ia mungkin tewas atau tidak berdaya.

Meski demikian, unit al-Qaeda di Somalia dan Mali, Afrika, masih menjadi kelompok yang kuat.

Secara ideologi, al-Qaeda menghadapi dilema yang biasa dihadapi kelompok jihadis: Memodernisasi kelompoknya dan menjadi lebih fleksibel guna mencuri hati umat Muslim biasa, dan bertahan; atau tetap berpedoman pada prinsip-prinsip jihad yang ketat, meski berisiko dikucilkan oleh Muslim yang lain.

Setiap pilihan itu memiliki risiko tersendiri.

Pilihan pertama dapat merusak kredensial jihadis al-Qaeda dan membuat jihadis garis keras keluar dari kelompok, sementara pilihan kedua dapat secara signifikan membatasi kapasitas operasional mereka, bahkan membubarkan mereka.

Kemunduran terbaru

Di Suriah, al-Qaeda – yang diwakili oleh cabang tidak resminya, Hurras al-Din – gagal berkembang. Ini sebagian dikarenakan permusuhan antara kelompok jihad, serta pengawasan yang sangat ketat terhadap petinggi-petinggi al-Qaeda oleh koalisi yang dipimpin AS.

Kelompok ini juga tidak populer di lapangan mengingat warga Suriah memandang jenama al-Qaeda sebagai ancaman dan magnet bagi aksi pemerintah dan komunitas internasional.

Kini, Hurras al-Din telah tidak aktif selama lebih dari dua bulan, sejak adanya penindakan dari kelompok jihad yang lebih kuat. Beberapa petinggi kelompok ini juga dijadikan target dalam serangan udara yang diduga dilakukan oleh AS.

Cabang al-Qaeda di Yaman – al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP)- dulu sempat menjadi cabang al-Qaeda yang paling ditakuti, namun mereka menderita beberapa kekalahan tahun ini. Mereka sekarang menjadi salah satu cabang al-Qaeda yang paling tidak aktif.

AQAP kehilangan pemimpinnya di serangan pesawat nirawak AS akhir Januari lalu. Baru-baru ini mereka kehilangan wilayah di tengah provinsi Bayda kepada pemberontak Houthi.

Keterangan gambar,

Pemimpin AQAP yang tewas, Qasim al-Raymi, mewanti-wanti keberadaan mata-mata dalam sebuah video

Selama bertahun-tahun, mata-mata rupanya telah menyusup ke kelompok ini. Keberadaan mereka memungkinkan serangan terhadap para petingginya tepat sasaran.

AQAP juga mengalami perpecahan internal.

Namun tahun ini AQAP masih menunjukkan kenapa mereka sempat paling ditakuti sebelumnya: Mereka mengatur serangan-serangan “lone wolf” atau individu di Barat.

Februari lalu, kelompok ini mengaku mendalangi serangan mematikan di pangkalan angkatan laut AS Pensacola di Florida pada Desember 2019, yang dilakukan oleh anggota pelatihan militer Arab Saudi Mohammed Alshamrani. Kaitan ini dikonfirmasi oleh AS.

Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM), salah satu cabang al-Qaeda yang paling tidak aktif, kehilangan pemimpinnya, seorang warga Aljazair, dalam sebuah serangan tentara Perancis di Mali pada awal Juni.

Tiga bulan berlalu, AQIM belum menunjuk penggantinya.

Keterangan gambar,

Cabang al-Qaeda di Afrika Utara mempertahankan hubungan dekat dengan sebuah kelompok di Mali

Alasannya masih belum diketahui, tapi, apapun itu, kosongnya kursi pemimpin bukanlah refleksi yang bagus bagi kelompok itu.

Secara umum, al-Qaeda lebih susah berkembang di Aljazair dan Afrika Utara, mengingat adanya kenangan buruk yang disebabkan oleh kelompk jihadis pada tahun 1990an, yang diwakili oleh kelompok ultra-ekstremis Armed Islamic Group (GIA), yang bertanggung jawab terhadap kematian banyak warga sipil Aljazair.

Jamaat Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), fokus di Mali, meski beroperasi juga di Burkina Faso terkadang di Nigeria. Kelompok ini dibentuk pada Maret 2017.

JNIM adalah cabang al-Qaeda paling aktif kedua setelah al-Shabab, afiliasi al-Qaeda di Somalia.

Serangan-serangan JNIM sebagian besar difokuskan pada tentara lokal dan asing, kebanyakan Perancis, di Sahel.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, JNIM nampaknya dipusingkan dengan pertempuran melawan kelompok Islamic State (ISIS).

Pada Februari, JNIM menunjukkan kesiapan berdiskusi dengan pemerintah Mali, namun dengan digulingkannya pemerintahan lewat kudeta pada Agustus 2019, dan hadirnya pemerintahan baru, keberuntungan dan masa depan JNIM kini tidak jelas.

Fokus ke Yerusalem

Al-Shabab jelas menjadi bentuk ancaman al-Qaeda terkuat dan terbesar saat ini.

Kelompok ini memiliki wilayah, dan membentuk semacam pemerintahan, di sebagian area pedesaan di bagian tengah dan selatan Somalia.

Keterangan gambar,

Al-Shabab telah melakukan pemberontakan yang brutal di Somalia selama lebih dari 10 tahun

Selain itu, al-Shabab mengklaim serangan setiap hari dan meluncurkan operasi profil tinggi di Somalia, dan kadang-kadang di negara tetangga Kenya.

Di antara operasi besarnya tahun ini adalah serangan ke pangkalan militer Manda Bay milik AS di Kenya, Januari lalu. Tiga orang AS tewas dalam serangan ini, dan beberapa pesawat rusak. Bulan lalu al-Shabab menyerbu sebuah hotel di pinggir laut Mogadishu yang sering dikunjungi oleh pejabat pemerintah, menewaskan lebih dari 12 orang.

Memanfaatkan serangan-serangan besar yang diluncurkan al-Shabab dan JNIM, al-Qaeda tahun lalu meluncurkan kampanye propaganda dan militer global yang fokus pada Yerusalem, yang kembali dilakukan tahun ini. Mereka mengatakan “pembebasan Palestina” sebagai tujuan akhir mereka dan menempatkan AS sebagai musuh nomor satu mereka saat ini.

Pesan bagi AS

Pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri baru muncul ke publik satu kali tahun ini, dalam sebuah video yang dimuat Mei lalu.

Pada April, pendukung ISIS berspekulasi bahwa al-Zawahiri tewas atau menderita stroke sampai lumpuh. Mereka beralasan al-Zawahiri tidak pernah tampil dalam video-video baru atau secara pribadi berkomentar soal momen-momen penting.

Keterangan gambar,

Pemimpin al-Qaeda, Al-Zawahiri, terakhir muncul ke publik pada Mei untuk membantah ateisme.

Beberapa petinggi pusat komando al-Qaeda telah tewas di wilayah Afghanistan-Pakistan dalam beberapa tahun terakhir, atau tewas dalam serangan pesawat nirawak AS di Suriah.

Kesepakatan damai AS-Taliban telah ditandatangani Februari lalu, yang berisi pasal bahwa kelompok itu tidak akan melindungi organisasi jihad global apapun. Kesepakatan ini dapat mempersulit petinggi al-Qaeda untuk mencari perlindungan di sana.

Sementara itu al-Qaeda telah mencoba mengeksploitasi krisis kesehatan dunia dan protes kesenjangan ras di AS untuk meraih dukungan berlandaskan pesan anti pemerintah AS tersebut.

Kepada masyarakat Barat secara umum, dan warga AS khususnya, al-Qaeda mengatakan bahwa pemerintah mereka gagal memberikan dukungan bagi mereka selama pandemi, dan perlakuan ‘rasis’ terhadap warga Afrika-Amerika di AS hanya dapat ditindaklanjuti lewat revolusi bersenjata.

Namun, sangat diragukan bahwa pesan dari kelompok yang bertanggung jawab atas serangan teror terbesar di tanah AS tersebut akan disambut baik oleh warga Amerika, itu pun jika pesan tersebut didengar mereka.

Related posts