Gunung Merapi masih alami aktivitas kegempaan yang tinggi, bagaimana prediksi erupsi dan skema mitigasi di kala pandemi Covid-19?

Gunung Merapi masih alami aktivitas kegempaan yang tinggi, bagaimana prediksi erupsi dan skema mitigasi di kala pandemi Covid-19?

Keterangan gambar,

Proses evakuasi masih difokuskan bagi kelompok rentan seperti lansia

Aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih tinggi sejak statusnya dinaikkan menjadi siaga atau level tiga pada 5 November. Aktivitas kegempaan yang tinggi itu menimbulkan guguran tebing lava lama.

“Guguran seperti ini merupakan kejadian yang biasa terjadi pada saat Gunung Merapi mengalami kenaikan aktivitas menjelang erupsi,” kata Kepala Balai Pengamatan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida.

Dalam rilis tertulis Senin (23/11), BPPTKG meminta warga tidak panik serta terus mengikuti rekomendasi dan arahan dari instansi-instansi terkait.

Guguran tebing lava lama itu terjadi pada Minggu dan berada di kawah utara. Namun material guguran jatuh ke dalam kawah sehingga sampai saat ini tidak berpengaruh pada aktivitas Gunung Merapi.

Keterangan gambar,

Guguran tebing lava lama seperti yang terjadi pada Minggu (22/11) biasa berlangsung pada saat Gunung Merapi mengalami kenaikan aktivitas menjelang erupsi, kata BPPTKG

Sementara itu proses evakuasi warga dari lereng Gunung Merapi sejak penetapan status siaga masih difokuskan untuk kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

Di barak pengungsian, pemerintah menyatakan menyiapkan sekat agar prinsip jaga jarak dapat dijalankan demi menekan penyebaran virus corona.

Aktivitas vulkanik Merapi kini telah melampaui kondisi siaga saat gunung api itu meletus tahun 2006.

Kalaupun Merapi meletus secara eksplosif, skalanya diperkirakan tidak akan sebesar letusan tahun 2010 yang dinyatakan terbesar dalam satu abad terakhir.

Bagaimana kondisi Merapi saat ini?

Keterangan gambar,

Gunung Merapi terus menunjukkan aktivitas vulkanik. Erupsi eksplosif diprediksi BPPTKG bisa terjadi, meski waktunya tak dapat ditentukan.

Sejak tahun 2018, Merapi sampai sekarang beberapa kali mengalami letusan eksplosif dalam skala Volcanic Explosivity Index-1, kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Hanik Humaida.

Sebagai komparasi, letusan eksplosif besar Merapi tahun 2010 yang menewaskan 277 orang tergolong Volcanic Explosivity Index-4.

Berdasarkan pantauan, Hanik menyebut aktivitas Merapi saat ini sudah melampaui kondisi munculnya kubah lava tahun 2006. Saat Merapi akhirnya meletus tahun 2006, jumlah korban jiwa setidaknya mencapai 151 orang.

Namun, kata dia, situasi Merapi hari ini masih lebih rendah dibandingkan hari-hari jelang erupsi tahun 2010.

“Indikator pemantauan sudah melampaui kondisi siaga 2006, sehingga muncul dua skenario yaitu ekstrusi magma dengan cepat dan erupsi ekplosif,” ujar Hanik dalam jumpa pers virtual, Rabu (11/11).

“Data pemantauan terus meningkat menuju dekatnya waktu erupsi. Jika terjadi erupsi eksplosif, kemungkinan tidak sebesar tahun 2010.

“Dasarnya apa? Karena tidak terjadi kegempaan. Artinya tidak ada tekanan magma yang berlebih, migrasi magma terjadi secara pelan,” kata Hanik.

Keterangan gambar,

Trauma menjadi korban letusan tahun 2010 disebut menyadarkan warga lereng Merapi tentang pentingnya mitigasi bencana.

Bagaimanapun, kata Hanik, masyarakat di sekitar Merapi patut waspada, terutama yang tinggal dan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak Merapi atau Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.

Hanik berkata, penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III patut dihentikan. Selain itu, dia menyebut kegiatan turisme di zona merah ini juga perlu disetop.

“Tidak melakukan kegiatan di daerah bahaya,” ujarnya. Hanik juga mengingatkan warga di zona merah untuk bersiap mengungsi sewaktu-waktu.

Keterangan gambar,

Aktivitas penambangan pasir di sungai yang berhulu di Gunung Merapi diminta untuk dihentikan sementara.

‘Pembuktian evaluasi bencana sebelumnya’

Daerah yang rentan bahaya letusan Merapi berada di empat wilayah berbeda, yaitu Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten di Jawa Tengah.

Di Sleman, terdapat tiga dusun yang kini masuk zona merah. Satu di antaranya masih dihuni warga, yaitu Kalitengah Lor. Sementara itu, dua dusun lainnya telah dikosongkan lewat program relokasi pasca-letusan tahun 2010.

Koordinator Tim Reaksi Cepat BPBD DIY, Pristyawan, menyebut evakuasi warga dari dusun Kalitengah Lor bersifat mandiri. Namun yang diutamakan menempati pengungsian kini adalah kelompok rentan.

“Evakuasi warga Kalitengah Lor sudah dicicil, kelompok rentan dan hewan ternak sudah turun,” kata Pristyawan saat dihubungi.

“Mitigasi masyarakat lereng Merapi sudah berjalan, pemerintah tinggal menunjukkan kehadiran, memberikan dukungan moral atas apa yang mereka mesti lakukan.

“Ini momentum untuk membuktikan hasil persiapan menghadapi bencana pasca-erupsi tahun 2010,” tuturnya.

Keterangan gambar,

Wilayah dalam radius lima kilometer dari puncak Merapi saat ini dianggap yang paling rentan terdampak aktivitas gunung berapi itu.

Camat Cangkringan, Suparmono, menyebut warga dari Kalitengah Lor mengungsi secara swadaya. Mereka turun dari lereng Merapi menggunakan kendaraan pribadi maupun truk yang disiagakan secara kolektif.

Suparmono menyebut pemerintah tidak akan menjemput warga. Evakuasi bertahap, kata dia, dilakukan agar masyarakat tidak panik.

“Warga turun dengan armada mereka sendiri. Warga koordinasi dengan dusun, ada yang menumpang truk, kendaraan pribadi. Kami minta tidak ada penjemputan supaya tidak ada kepanikan. Tetangga kalau melihat mereka dijemput, beramai-ramai, pasti panik,” tuturnya.

Keterangan gambar,

Barak pengungsian untuk warga lereng Merapi terdiri dari bilik-bilik demi mencegah penularan Covid-19.

‘Satu orang satu bilik’

Terkait pandemi yang masih berlangsung, Suparmono mengklaim ratusan warga yang menempati pengungsian akan tetap bisa menjalankan protokol Covid-19.

Selain sarana cuci tangan, dia menyebut sekat-sekat telah dipasang di tenda pengungsian agar setiap orang dapat menjaga jarak aman.

“Barak pengungsian semua pakai bilik. Satu bilik satu orang, kalau suami-istri satu bilik dua orang,” kata Suparmono kepada Ignasia Dhita, wartawan di Yogyakarta yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

“Sarana cuci tangan juga sudah lengkap. Tapi masih ada pengungsi yang pakai masker kain, kami berpikir bagaimana supaya mereka bisa pakai masker medis,” ujarnya.

Keterangan gambar,

Sistem satu bilik satu orang dianggap sistem pengungsian yang tepat selama pandemi Covid-19.

Namun protokol kesehatan di tenda itu dikeluhkan sejumlah pengungsi lansia dari Kalitengah Lor. Isu yang mengemuka berkaitan dengan kenyamanan.

“Keluhan cuma gerah. Kalau di rumah sendiri tidak disekat, kalau di sini disekat, udaranya jadi gerah. Maklum saya orang tua,” kata Arjodinomo, perempuan berusia 70-an akhir.

“Malam enggak bisa tidur karena gerah. Enggak ada kasur, cuma ini, lembaran seperti ini saja,” kata dia.

Arjodinomo berkata tidur bersama kakak perempuannya dalam satu bilik. Sejak mengungsi, dia melihat beberapa lansia diberikan obat-obatan oleh petugas medis.

Related posts