Abu Bakar Ba’asyir ‘dibebaskan’, keluarga akan ‘jauhkan dari paham tak benar termasuk ISIS’, korban Bom Bali ‘berusaha memaafkan’

Abu Bakar Ba'asyir 'dibebaskan', keluarga akan 'jauhkan dari paham tak benar termasuk ISIS', korban Bom Bali 'berusaha memaafkan'

Abu Bakar Ba’asyir dan rombongannya telah tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Al Mukmin Ngruki, Cemani, Sukoharjo, Jumat (08/01), beberapa jam setelah dibebaskan dari Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat.

Iring-iringan rombongan mobil yang membawa Abu Bakar Ba’asyir sampai di Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki sekitar pukul 13.37 WIB. Ba’asyir yang didampingi oleh putranya Abdul Rohim Ba’asyir itu tampak melambaikan tangan saat akan memasuki pintu gerbang sebelah utara ponpes.

Setelah masuk kompleks ponpes, Ba’asyir langsung turun dan mobil dan menyambangi kediamannya yang terletak di selatan Masjid Baitusalam. Kemudian, ia langsung keluar rumah dan menuju masjid dengan kursi roda.

Sementara itu putra Ba’asyir, Abdul Rohim mengatakan setelah bebas dan tiba di rumah, Ba’asyir ingin beristirahat dan berkumpul dengan keluarga terlebih dahulu. Sedangkan rencana pertemuan dengan tokoh, ia mengaku tidak ada agenda pertemuan itu.

“Sampai sekarang tidak ada agenda itu (pertemuan denga tokoh) dan belum mengagendakan pertemuan yang sifatnya besar. Saat ini agenda selanjutnya, ustaz Abu intinya istirahat di rumah setelah perjalanan jauh,” ucapnya, sebagaimana dilaporkan wartawan di Solo, Fajar Sodiq, kepada BBC News Indonesia.

Keterangan gambar,

Abu Bakar Ba’asyir berfoto bersama keluarga dan tim pengacaranya sesaat setelah meninggalkan Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat, Jumat (08/01).

Dalam pernyataan tertulis, Mujiarto selaku Kepala Lapas Khusus Klas IIA Gunung Sindur, mengatakan Ba’asyir dibebaskan setelah melewati proses administrasi dan protokol kesehatan pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Menurutnya, Ba’asyir telah menjalani rapid test antigen dan hasilnya negatif.

“ABB [Abu Bakar Ba’asyir] diserahterimakan dengan pihak keluarga dan tim pengacara yang datang menjemput, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang di antaranya adalah membawa surat hasil Tes Swab COVID-19 negatif,” sebut Mujiarto.

Ditambahkannya, perjalanan Ba’asyir menuju kediaman di Sukohardjo, selain didampingi keluarga dan tim pengacara, juga dilakukan pengawalan oleh Densus 88 dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Pembebasan Ba’asyir dibenarkan juru bicara Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Endro Sudarsono.

“Tadi dikabari jam 05.24 WIB, ustaz Ba’asyir sudah bebas,” kata Endro kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

BBC News Indonesia menerima foto yang memperlihatkan Abu Bakar Ba’asyir telah berada di dalam sebuah mobil bersama empat orang lainnya. Salah satunya adalah putranya, Abdul Rochim.

Keterangan gambar,

Abu Bakar Ba’asyir telah dibebaskan dari Lapas Gunung Sindur dan dijemput keluarganya.

Sementara itu, sejumlah korban Bom Bali memberi tanggapan berbeda atas pembebasan Abu Bakar Ba’asyir. Salah seorang di antara mereka mengaku was-was, namun dia akan berupaya memaafkan pria tersebut.

Pria berusia 82 tahun itu dianggap sebagai pemimpin spritual Jemaah Islamiah (JI), sebuah kelompok yang terinsipirasi al-Qaeda dan melakoni serangan bom di Bali pada 2002 sehingga menewaskan 202 orang.

Theolina Marpaung, Sekretaris Paguyuban Korban Bom Bali, mengaku risau dengan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir.

“Sebagai masyarakat saya sedikit was-was dengan keluarnya beliau karena apa yang dia lakukan sebelumnya. Rasa was-was itu juga tidak bisa saya pendam terus. Saya bawa juga dalam doa, semoga beliau menjadi lebih baik lagi,” kata Theolina kepada wartawan di Bali, Anton Muhajir, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Theolina berharap agar Ba’asyir dan semua pelaku Bom Bali yang sudah keluar dari penjara agar tetap diawasi.

Keterangan gambar,

Kerusakan yang ditimbulkan ledakan bom di depan Sari Club, Legian, Bali, pada 2002 silam.

Hal senada diutarakan Garil Arnandha, yang ayahnya meninggal dunia akibat ledakan Bom Bali pada 2002.

“Saya berharap pemerintah harus benar-benar mengawasi dengan penuh segala kegiatan beliau agar menjaga keamanan negara,” paparnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Dia sejatinya tidak setuju Ba’asyir dibebaskan karena, menurutnya, yang bersangkutan “masih sangat berbahaya dan berpotensi akan menghidupkan terorisme di Indonesia”.

“Bahkan semenjak dipenjara pun dia menolak mengikuti progam deradikalisasi dari pemerintah. Dan pada tahun 2019 ketika akan dibebaskan dengan program pembebasan bersyarat dia menolak karena enggan mendatangani dokumen setia Pancasila dan NKRI,” jelasnya.

Walau Ba’asyir disebut-sebut tak lagi memiliki pendukung sebanyak dulu, Garil mewanti-wanti para pendukungnya “adalah manusia yang jika dipengaruhi hal-hal negatif bisa berbuat apa saja”.

Keterangan video,

‘Bertemu pelaku pengeboman yang membunuh orang tua saya’

Berusaha memaafkan

Secara pribadi, Theolina menegaskan dirinya akan berupaya memaafkan Ba’asyir, walau mengalami sakit akibat insiden Bom Bali.

“Saya sendiri sudah berjanji dalam iman saya sejak 2002. Waktu itu kedua mata saya sakit sekali, begitu juga wajah saya. Saya sudah memakai painkiller, tetapi tidak sembuh-sembuh. Saya kemudian berdoa kepada Tuhan agar supaya sakitnya diambil. Saya bernadzar kalau Tuhan mencabut rasa sakit ini, saya akan lakukan apapun yang Tuhan perintahkan.

“Jadi, walaupun bagi orang lain sulit memaafkan, saya akan berusaha (memaafkan) karena saya sudah berjanji,” paparnya.

Endang Isnanik, ibu Garil Arnandha, mengatakan bahwa dirinya “sudah memaafkan”.

“Dia sudah menjalani hukuman atas perbuatannya. Saya berharap mereka benar-benar kembali ke jalan yang benar. Kekhawatiran tetap ada, tapi positive thinking saja,” katanya.

Keterangan gambar,

Abu Bakar Ba’asyir dianggap sebagai pemimpin spritual Jemaah Islamiah (JI), sebuah kelompok yang terinsipirasi al-Qaeda dan melakoni serangan bom di Bali pada 2002 sehingga menewaskan 202 orang.

Sebelumnya, Kepala bagian humas dan protokol Direktorat Jenderal Permasyarakatan, Rika Aprianti mengatakan Abu Bakar Ba’asyir akan bebas dari Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur di Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (08/01) “sesuai dengan tanggal ekspirasi atau berakhirnya masa pidana”.

Ba’asyir telah menjalani hukuman selama 11 tahun dari 15 tahun vonis hukuman penjara karena dinyatakan bersalah dalam kasus mendanai pelatihan terorisme di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia pada Juni 2011.

Ba’asyir mendapat total remisi sebanyak 55 bulan, terdiri dari remisi umum, dasawarsa, khusus, Idul Fitri dan remisi sakit.

Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006, ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan tuduhan terkait pendirian kelompok militan di Aceh.

Ba’asyir mendirikan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) setelah keluar dari Jamaah Islamiah, yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 dan beberapa kasus terorisme.

Related posts