Pemimpin kudeta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, akankah hadir dalam pertemuan pemimpin ASEAN di Jakarta?

pemimpin-kudeta-myanmar-jenderal-min-aung-hlaing-akankah-hadir-dalam-pertemuan-pemimpin-asean-di-jakarta-12

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Jendral Min Aung Hlaing – pemimpin militer yang melakukan kudeta Februari lalu – dalam parade militer pada 27 Maret lalu.

Min Aung Hlaing, pemimpin militer yang berada di balik kudeta Myanmar disebut akan hadir dalam dalam pertemuan para pemimpin ASEAN, pada Sabtu (24/04), di Jakarta—pertemuan pertama sejak kudeta Februari lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Tanee Sangrat, mengatakan sejumlah kepala negara termasuk Jendral Hlaing akan hadir. Namun juru bicara Kemenlu Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan, kepastian kehadiran jendral itu baru diketahui hari Sabtu (24/04).

Rencana kehadiran Hlaing banyak ditentang oleh para aktivis dan politisi pro-demokrasi yang membentuk pemerintahan bersatu, National Unity Government (NUG), April ini.

NUG mendesak negara-negara tetangga untuk tidak mengakui junta dan meminta perundingan sebaiknya dengan pihak mereka.

Di antara aktivis yang menentang kehadiran sang jendral, termasuk Kyaw Win, direktur badan HAM yang berkantor di London, Burma Human Rights Network (BHRN).

“Apakah Presiden Jokowi akan berjabat tangan dengan Min Aung Hlaing yang melakukan genosida Rohingya dan membunuh 700 orang Burma lainnya,” cuit Kyaw Win. “Undanglah pemerintahan NUG.”

Namun belum ada tanda-tanda apakah sang jenderal maupun pihak pro-demokrasi yang menentangnya akan segera berkompromi. Lantas, apakah Pertemuan ASEAN mendatang bisa mengakhiri pertumpahan darah di Myanmar?

Kekerasan di Myanmar masih terus terjadi dan ASEAN sendiri terpecah dalam mencapai konsensus untuk membantu mencari jalan menangani krisis di Myanmar.

Sejauh ini, kepala negara yang hadir termasuk Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, dan PM Vietnam, Pham Minh Chinh. Adapun PM Thailand, Prayuth Chan-ocha mengatakan akan diwakili Don Pramudwinai, yang juga menteri luar negeri.

Dalam beberapa pekan terakhir, militer Myanmar telah menggunakan granat lontar atas warga sipil dan jet-jet tempur dalam melawan kaum pemberontak di sejumlah daerah.

Banyak pengamat yakin bahwa negara ini berada di ambang status “negara gagal”.

Keterangan gambar,

Kerabat Su Su Kyi, yang tewas ditembak saat di dalam mobil dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, pada acara pemakamannya di Yangon 2 April 2021. Myanmar terus bergejolak sejak kudeta militer 1 Februari lalu.

Karena yakin bahwa rangkaian sanksi ekonomi yang telah diterapkan hanya akan berdampak terbatas bagi pimpinan militer Myanmar, pemerintah negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur telah mengimbau mitra-mitra mereka di Asia Tenggara untuk memimpin upaya mengatasi krisis.

Sekilas mereka tampaknya punya banyak alasan untuk melakukannya: situasi Myanmar merupakan ancaman terbesar bagi keamanan Asia Tenggara sejak bentrokan antara Thailand dan Kamboja satu dekade lalu.

Sikap ASEAN terpecah

Keterangan gambar,

Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta

Terlepas dari risiko arus pengungsi besar-besaran atau bahkan perang saudara, kesepuluh anggota ASEAN berselisih soal apakah akan mengadakan pertemuan. Ada tanda-tanda jelas perpecahan antara pemerintah yang ingin mengambil tindakan dan yang tidak.

Empat negara secara khusus telah mendesak adanya intervensi. Pada 31 Maret, menteri luar negeri Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filipina mengunjungi China, yang diyakini membahas Myanmar. Sebagai ketua ASEAN saat ini, Brunei Darussalam juga aktif dalam menyusun pernyataan bersama yang menyatakan keprihatinan.

Malaysia telah menolak untuk mengakui junta militer sebagai pemerintah yang sah. Dalam pernyataannya, Malaysia mengacu pada “otoritas militer di Myanmar” dan terus menyerukan pembebasan atas “Penasihat Negara Aung San Suu Kyi” mengacu pada gelar resminya sebelum dikudeta.

Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, menyebut penindasan militer terhadap aksi-aksi protes merupakan langkah yang “tidak dapat diterima”.

Tetapi muncul pertanyaan soal sikap negara-negara tetangga lainnya: Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam.

Secara khusus perhatian difokuskan pada Thailand dan Vietnam. Seorang analis Asia Tenggara mengatakan diplomat dari negaranya menyalahkan Bangkok dan Hanoi atas penundaan dalam mencapai posisi bersama di ASEAN.

Masih belum jelas apakah Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, akan hadir dalam KTT nanti. Menurut pengamat Thailand dari Universitas Chulalongkorn, Thitinan Pongsudhirak, “Pemerintahan Prayuth relatif diam” atas isu Myanmar.

Keterangan gambar,

PM Thailand Prayuth Chan-ocha (kedua dari kanan)

Menurut dia, ada dua faktor di balik sikap pemimpin Thailand itu. Salah satunya, Prayuth sendiri adalah mantan jenderal yang berkuasa lewat kudeta militer.

Faktor lain adalah “Thailand punya kepentingan nyata yang dipertaruhkan, tidak terkecuali impor gas alam yang menyediakan sekitar 30% bagi listrik Thailand.”

Kritik lain soal pemerintah Thailand datang dari Pavin Chachavalpongpun dari Universitas Kyoto di Jepang. “Thailand dan Myanmar ibarat kembar yang dipisahkan saat lahir,” ujarnya.

“Militernya saling memperhatikan satu sama lain dan meniru cara memperkuat diri dalam perpolitikan. Saya melihat mereka mencoba membuat aliansi iliberalisme di kawasan ini.”

Vietnam pun setali tiga uang. Pimpinan di Vietnam berhubungan erat dengan mitranya di Myanmar. Perusahaan telekomunikasi milik militer, Viettel, punya sejumlah kerja sama besar dengan militer Myanmar, nilainya lebih dari US$1 miliar.

Duta Besar Vietnam untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, yang kini memimpin Dewan Keamanan PBB, Dang Dinh Quy, sudah mengatakan bahwa negaranya menentang penggunaan sanksi internasional atas junta militer, sembari mengatakan “kita perlu melibatkan semua pihak yang berkepentingan di Myanmar, jadi kita akan membuat siapapun merasa dikucilkan.”

Baik Vietnam dan Thailand, bersama Laos, China, India, Bangladesh, Rusia, dan Pakistan mengirim pejabat senior militer untuk menghadiri perayaan Hari Angkatan Bersenjata Myanmar pada 27 Maret lalu, walaupun pada hari yang sama puluhan pemrotes ditembak mati di berbagai kota.

Dianggap peluang ganda

Bagi pemerintah yang sering dikritik oleh masyarakat internasional soal situasi hak asasi manusia di negara mereka, krisis Myanmar dipandang sebagai peluang ganda.

Pertama, krisis ini menjadi momen untuk menegaskan prinsip ASEAN, yaitu “non intervensi’ atas masalah dalam negeri salah satu anggotanya.

Kedua, hal itu juga merupakan momen saat perhatian internasional biasanya tengah berkutat pada, contohnya, Kamboja sehingga fokusnya kini teralihkan.

Keterangan gambar,

PM Kamboja Hun Sen

Pemerintahan Hun Sen mungkin tengah menikmati berkurangnya sorotan saat para diplomat Eropa kini justru mendorong tindakannya terhadap junta Myanmar.

Sikap ASEAN tampaknya terbelah dua: antara negara-negara ‘daratan’, yang secara geografis lebih dekat ke China dan menentang intervensi di Myanmar, serta negara-negara ‘maritim’ – yang posisinya jauh dari China dan memilih mengambil tindakan.

Dari negara-negara maritim itu, Indonesia telah berupaya keras menggalang respons kolektif atas krisis di Myanmar.

Presiden Joko Widodo telah mengimbau sesama pemimpin untuk menyepakati kerangka kerja ASEAN dalam mengakhiri kekerasan, mengirim bantuan kemanusiaan, dan memulai kembali dialog di antara pihak-pihak yang bertikai.

Skenario terbaik dan terburuk

Evan Laksmana dari Centre for Strategic and International Studies di Jakarta mengatakan bahwa ‘skenario terbaik’ adalah ‘membentuk suatu gugus tugas untuk mendukung dan memfasilitasi proses tersebut.’

Sedangkan ‘skenario terburuk’, menurutnya, adalah “memberikan legitimasi kepada rezim yang melakukan kudeta dengan mengundang Jenderal Senior untuk datang namun tidak mendapatkan komitmen yang bisa dijalankan demi mengakhiri kekerasan dan memulai kembali dialog.”

Bagi Indonesia dan pemerintah lainnya yang menginginkan proses rekonsiliasi dimotori ASEAN di Myanmar, pembicaraan KTT nanti akan krusial. Menurut seorang diplomat utama dari suatu negara ASEAN, “Kami hanya berharap ASEAN bisa menjadikan KTT ini bukan sebagai undangan bagi kepala pemerintah, namun sebagai semacam panggilan.”

Dalam kata lain, pengaturan foto bersama antar-pemimpin memang penting, tapi penting juga mengupayakan kesepakatan di atas kertas. Diplomat itu yakin Jenderal Min Aung Hlaing akan sangat sedikit setuju.

Keterangan gambar,

Demonstran Myanmar memegang foto menentang rezim militer pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing yang melancarkan kudeta dalam aksi unjuk rasa di Bangkok, Thailand, pada 2 Februari 2021.

“Beliau akan menyampaikan pidato, menguraikan jadwalnya, menawarkan visa kunjungan yang diatur” dan berharap bisa menghindari tindakan lebih lanjut.

ASEAN selama ini bangga akan kemampuannya untuk membujuk ketimbang memaksa, namun kemampuan itu jadi sangat lemah bila organisasi itu tidak kompak.

Membujuk sembilan Negara anggota lain untuk mengambil sikap yang solid akan sama menantangnya dengan membujuk junta Myanmar untuk meredakan krisis.

Bill Hayton, peneliti lembaga kajian Chatham House, London, turut berkontribusi dalam artikel ini.

Related posts