KRI Nanggala 402: Dari patungan di masjid beli kapal selam baru hingga desakan revolusi anggaran alutsista RI naik ‘tujuh kali lipat’

kri-nanggala-402-dari-patungan-di-masjid-beli-kapal-selam-baru-hingga-desakan-revolusi-anggaran-alutsista-ri-naik-tujuh-kali-lipat-12

Sumber gambar, Antara Foto/Budi Candra Setya

Keterangan gambar,

Siswa menata lilin saat menggelar doa bersama di SMAK Hikmah Mandala, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (26/04).

Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 menjadi “pukulan keras” untuk segera dilakukannya revolusi kebijakan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya TNI Angkatan Laut – mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, revolusi perlu dilakukan dengan cara meningkatkan secara tajam anggaran dan juga melalui kebijakan geopolitik pertahanan dengan memanfaatkan posisi strategis Indonesia di kawasan.

“Harus dilakukan revolutionary on budget affair dengan threat atau capability base, bukan budget base seperti sekarang karena tidak akan terkejar. Lalu dengan memanfaatkan kekuatan geopolitik Indonesia seperti yang dilakukan Bung Karno, miiter Indonesia terkuat di bumi bagian selatan,” kata Connie saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau, Rabu (28/04).

Kekuatan militer Indonesia termasuk Angkatan Lautnya – yang sempat menjadi terbaik di masa Presiden Sukarno – kini tertatih-tatih untuk menjaga laut seluas 5,8 juta kilometer persegi atau 71% dari keseluruhan wilayah Indonesia, tambah Connie.

Musibah ini juga membangkitkan gerakan kepedulian masyarakat – seperti yang dilakukan anak-anak muda dari Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, yang menggalang dana untuk membeli kapal selam. Hasilnya, dalam dua hari terkumpul hampir Rp800 juta.

“Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada kapal yang lebih banyak terutama kapal selam,” kata Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Julius Widjojono mengapresiasi empati yang ditunjukkan masyarakat yang melintasi agama, sektoral hingga negara atas duka KRI Nanggala 402.

Terkait dengan perlu dilakukannya penambahan anggaran dan peningkatan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan tersebut kepada Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan kebutuhan mengacu pada grand strategi AL. Keputusan ada di pihak atas, mau diberikan apa, seperti apa, kami siap melaksanakannya,” kata Julius.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista dengan cepat dikarenakan “keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Seperti pada tahun 2020, dari sekitar Rp117 triliun anggaran pertahanan, hampir 50% nya atau sebesar Rp53 trilun digunakan untuk belanja pegawai, dan sekitar Rp30 triliun untuk belanja barang serta Rp34 triliun untuk belanja modal.

‘Gerakan membeli kapal selam’

Keterangan gambar,

Sejumlah umat Katolik membawa lilin dan bunga saat berdoa bersama di Gereja Katolik Paulus Miki, Salatiga, Jawa Tengah, Senin (26/04).

Sekumpulan anak muda di Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang merasa berduka dengan musibah Kapal Selam KRI Nanggala 402 berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk santunan dan mengganti kapal selam tersebut.

“Mereka pikir beli kapal seperti beli mobil, tapi ini niat dan imajinasi yang baik, kami dukung. Lalu sorenya, anak-anak bergerak mengumpulkan donasi di pasar sore Ramadhan Kampung Jogokariyan,” cerita Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Hasilnya, terkumpul Rp15 juta untuk santunan dan Rp6,5 juta untuk membeli kapal. Beberapa saat kemudian, muncul antusias dari masyarakat agar dibuat rekening donasi.

“Hasilnya, ternyata respon sangat luar biasa. Hari kedua rekening dibuka sudah hampir Rp800 juta,” tambah Jazir.

Melalui donasi ini juga, Jazir berharap agar kekuatan alutsista pertahanan dapat diperkuat terutama untuk TNI AL yang memiliki tantangan tugas berat.

“Laut itu sulit sekali diawasi sehingga perlu banyak kapal selam untuk negara maritim yang sangat luas ini, sementara armada AL kita hanya sedikit. Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada kapal yang lebih banyak terutama kapal selam,” kata Jazir.

‘Pukulan keras’

Keterangan gambar,

KRI Celurit-641 menembakan rudal C-705 ke target sasaran di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (08/04).

Senada dengan itu, menurut pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie perlu dilakukan revolusi anggaran pertahanan dengan menggunakan basis kemampuan ataupun basis ancaman – tidak seperti sekarang yang menggunakan basis anggaran.

“Hitungan dalam disertasi saya itu tujuh persen dari PDB (produk domestik bruto), berarti tujuh kali lipat dari hari ini sebesar Rp137 triliun. Jadi dilakukan revolusi modernisasi besar-besaran mengejar ketertinggalan. Lalu tahun berikutnya turun bertahap, karena tinggal pemeliharaan,” kata Connie.

Musibah KRI Nanggala merupakan “pukulan keras” untuk segera dilakukan revolusi anggaran pertahanan. Jika tidak dilakukan dan masih menggunakan basis anggaran, maka musibah-musibah di masa mendatang sulit terelakan.

“Kalau masih menggunakan budget base, jangan kaget kalau besok-besok ada musibah lagi, ditambah lagi dari anggaran yang ada 70%-nya buat anggaran rutin, jadi untuk modernisasi dan peremajaan itu hanya 30%,” kata Connie.

Connie mencontohkan, Indonesia harusnya memiliki setidaknya 12 kapal selam, namun kenyataanya hanya ada 5 unit dan satu telah tenggelam. Sementara itu, Indonesia juga memilik 282 kapal perang yang terdiri dari 7 fregat, 24 jenis korvet, 5 unit kapal selam, 156 kapal patroli dan 10 kapal penyapu ranjau.

Sementara di sisi lain, luas perairan Indonesia lebih dari 5,8 juta kilometer persegi sementara daratan hanya 2 juta kilometer persegi yang tersebar di 17.499 pulau.

Di tahun 2020, anggaran untuk TNI AD juga paling besar yaitu Rp55,92 miliar, lalu diikuti TNI AL Rp22,08 miliar dan TNI AU Rp15,50 miliar.

Sementara untuk program modernisasi alutsista pada tahun 2020, Kementerian Pertahanan mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,86 triliun, yang terdiri dari Rp4,59 triliun untuk matra darat, Rp4,16 triliun untuk matra laut dan Rp2,11 triliun untuk matra udara.

Kecelakaan-kecelakaan alutsista TNI

Keterangan gambar,

Anggota TNI AL melakukan penghormatan ketika kapal selam KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (06/02/2012).

Sebelum tenggelamnya KRI Nanggala 402, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo setidaknya telah terjadi belasan kali kecelakaan alutsista TNI dengan banyak korban jiwa.

Di antaranya adalah jatuhnya Pesawat Hercules C-130 TNI AU di Medan pada 30 Juni 2015 yang menyebabkan 122 orang meninggal, kemudian jatuhnya pesawat tempur Hawk Mk-209 di Riau 15 Juni 2020.

Lalu, beberapa helikopter milik TNI AD jatuh di Papua, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Tengah yang menyebabkan belasan orang meninggal dunia.

Kemudian di TNI AL, beberapa kapal mengalami kecelakaan.

Memainkan peran geopolitik

Keterangan gambar,

Warga membawa bunga dan berdoa untuk seluruh awak kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan utara Pulau Bali saat aksi simpatik di Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/04).

Setelah melakukan revolusi anggaran, cara selanjutnya adalah dengan cara memanfaatkan posisi geopolitik Indonesia yang memiliki peran penting di kawasan – berada di antara dua samudera dan dua benua – seperti yang dilakukan presiden pertama RI, Sukarno.

“Bayangkan, setelah lima tahun merdeka, di era Bung Karno kita terkuat di bumi bagian selatan. Apakah kita ada uang? Tidak saat itu, tapi semua takut. Jangankan Australia, Amerika saja takut,” kata Connie

Saat itu, Indonesia memiliki 12 kapal selam jenis Whiskey, puluhan kapal tempur, ratusan pesawat tempur dan alutsista lainnya.

“Kuncinya di mana? Kemampuan memainkan geopolitik, posisi penting Indonesia menjadi nilai di saat itu Perang Dingin. Sekarang di tengah kebangkitan China, fokus Barat ke Asia Pasifik, seharusnya posisi tawar kita sangat besar untuk meningkatkan alutsista,” kata Connie.

Apresiasi kepedulian masyarakat

Keterangan gambar,

Prajurit TNI AL memberikan penghormatan saat pengibaran bendera merah putih setengah tiang di Pos Keamanan Pelabuhan Perikanan Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Selasa (27/04).

TNI Angkatan Laut sementara itu mengapresiasi empati yang ditunjukan masyarakat seperti dilakukan anak muda Masjid Jogokariyan dan pihak lain.

“Kami sangat surprise dengan empati yang diberikan berbagai lapisan masyarakat, lintas agama, lintas sektoral bahkan lintas negara, dari beberapa kelompok pelaut luar negeri juga mau menyumbangkan.

“Jadi kalau mau menyumbangkan itu, tidak mungkin TNI AL akan menerima karena menyalahi UU, yang kami garis bawahi empati ini sangat luar biasa dan sangat berterima kasih,” kata Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono.

Sementara itu, terkait dengan perlu dilakukannya penambahan anggaran dan peningkatan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan tersebut kepada Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan kebutuhan mengacu pada grand strategi AL, keputusan ada di pihak atas, mau diberikan apa, seperti apa, kami siap melaksanakannya,” kata Julius.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista dengan cepat dikarenakan pengadannya “cukup mahal” dan “keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Kementeriannya, kata Prabowo, sudah menyusun rencana induk 25 tahun untuk membenahi urusan pertahanan.

“Tapi intinya memang, kita akan investasi lebih besar tanpa memengaruhi usaha pembangunan kesejahteraan. Kita sedang merumuskan pengelolaan pengadaan alutsista untuk lebih tertib, lebih efisien,” kata Prabowo.

Seperti pada tahun 2020, dari sekitar Rp117 triliun anggaran pertahanan, hampir 50% nya atau sebesar Rp53 trilun digunakan untuk belanja pegawai, dan sisanya sekitar Rp30 triliun untuk belanja barang serta Rp34 triliun untuk belanja modal.

Related posts