Covid di India: Menjawab pertanyaan pembaca BBC soal gelombang kedua dan penanganan pandemi

covid-di-india-menjawab-pertanyaan-pembaca-bbc-soal-gelombang-kedua-dan-penanganan-pandemi-12

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Seorang pria menangis ketika ayahnya yang meninggal akibat mengidap Covid-19 dimakamkan di New Delhi, India

India mencatat jumlah kasus Covid-19 tertinggi di dunia selama tujuh hari terakhir. Sejumlah pakar meyakini angka kematian yang sesungguhnya lebih tinggi dari angka versi pemerintah India.

Banyak pembaca BBC yang mengirimkan pertanyaan mengenai situasi terkini di India. Untuk menjawabnya, kami bertanya kepada para koresponden BBC maupun pakar di India.

Mengapa gelombang kedua di India begitu parah?

Dr Om Srivastava, konsultan dan profesor di bidang penyakit menular dari Mumbai menjawab:

Kami sangat berhati-hati ketika gelombang pertama terjadi. Kisah permukiman kumuh Dharavi di Mumbai adalah contoh bagus bagaimana penularan bisa dihambat sehingga menjadi model yang ditiru di berbagai wilayah di dunia.

Namun, seiring waktu, kira-kira sejak November tahun lalu, kami menjadi sedikit lengah. Kami berpikir virus itu sudah keluar dari kehidupan kita.

Baca juga:

Pola pikir semacam itu membuat kami tidak mempertahankan protokol kesehatan sebagaimana mestinya. Ditambah ada serangkaian acara yang tidak menerapkan protokol kesehatan—kampanye pemilu dan ritual Kumbh Mela. Situasi tersebut belakangan mencelakai kami.

Keterangan gambar,

Para peserta Festival Kumbh Mela tampak tidak mengenakan masker dan saling berdekatan pada 14 April lalu.

Kemudian ada beberapa alasan lain. Jika Anda memperhatikan sejarah, gelombang kedua [pandemi] selalu lebih agresif dan lebih banyak kasusnya ketimbang gelombang pertama.

Ketika itu terjadi, ada dua hal yang membebani masyarakat. Pertama, merasa perlu ke rumah sakit serta mendapatkan oksigen sehingga mereka merasa sedikit aman. Kedua, kecemasan saat tidak mendapatkan ranjang.

Terlepas bahwa sebagian besar khalayak perlu atau tidak perlu dibawa ke rumah sakit, itu hal utama yang dirasakan masyarakat karena berpikir bahwa rumah sakit adalah tempat paling aman.

Apakah India punya infrastruktur medis yang cukup bagi penduduknya?

Yogita Limaye, koresponden BBC India, menjawab:

Pada 2018, India menghabiskan 1,28% dari Produk Domestik Brutonya untuk layanan kesehatan. Amerika Serikat, jika dibandingkan, membelanjakan 17% dari PDBnya.

Berdasarkan catatan pemerintah India pada 2019-2020, satu dokter melayani 1.456 orang di negara tersebut.

Kurangnya alokasi di sektor layanan kesehatan masyarakat adalah masalah lama. Pemerintah berganti, tapi kesehatan belum kunjung menjadi prioritas.

Di kota kecil dan pedesaaan, situasinya buruk. Rumah sakit kerap tidak punya peralatan dan staf yang memadai. Di beberapa bagian India, masyarakat harus bepergian berkilometer-kilometer untuk mendapatkan layanan medis.

Keterangan gambar,

Seorang pasien Covid-19 tengah berada di dalam unit gawat darurat di Rumah Sakit Holy Family di New Delhi.

Bagaimana pemerintah India menangani krisis ini?

Yogita Limaye, koresponden BBC India, menjawab:

Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa dirinya menggelar tiga rapat pada Selasa (27/04) untuk membahas peningkatan kapasitas oksigen dan infrastruktur kesehatan. Kereta dan pesawat militer dikerahkan untuk mempercepat transportasi pasokan oksigen.

Namun di lapangan, bantuan belum menjangkau orang-orang yang sangat memerlukan.

Di Delhi, ada nomor-nomor kontak untuk meladeni orang-orang yang menanyakan ranjang rumah sakit. Kenyataannya, hampir mustahil mendapatkan ranjang rumah sakit karena fasilitas kesehatan sudah amat kewalahan.

Baca juga:

Orang-orang begitu berang. Ketika kami menemui para keluarga pasien Covid, mereka bertanya: “Ke mana pemerintah? Apa yang mereka lakukan?”

Banyak yang bertanya mengapa militer dan tim tanggap darurat belum juga mendirikan rumah sakit lapangan dengan anggaran militer.

Masyarakat menangkap kesan bahwa mereka ditelantarkan dan dibiarkan mengurus diri masing-masing.

Keterangan gambar,

Rumah sakit-rumah sakit di India kewalahan menangani pasien Covid-19.

Mengapa India tidak menerapkan metode produksi oksigen seperti di beberapa tempat di Afrika?

Dr Om Srivastava, konsultan dan profesor di bidang penyakit menular dari Mumbai menjawab:

Kita cenderung mengira bahwa kebutuhan oksigen dipasok dengan cara begini: dua atau tiga liter oksigen disalurkan melalui selang pernapasan ke hidung.

Nyatanya, di Unit Perawatan Intensif tidak demikian. Di tempat itu, para tenaga kesehatan memerlukan selang pernapasan yang bisa mengalirkan oksigen secara cepat. Adapun oksigen yang dipakai antara 10 hingga 40 liter.

Di rumah sakit yang dijadikan rumah sakit khusus pasien Covid, total konsumsi oksigen jauh melampaui yang Anda kira.

Meminta oksigen lebih banyak untuk pasien saat ini atau pasien yang akan datang adalah langkah jitu—namun proses ini perlu waktu, terlepas dari cara produksi oksigen.

Ketika situasinya sudah genting seperti sekarang dan kebutuhan oksigen sangat besar, akan ada disparitas antara yang tersedia dan yang bisa diantarkan. Oksigen adalah sesuatu yang harus dicermati, dikalkulasi, dan disiapkan—sebagaimana sumber daya lainnya. Semua hal itu harus dilakukan pada waktu tertentu sehingga rumah sakit bisa menyediakan semua kebutuhan pasien.

Media banyak menyoroti kekurangan oksigen pada saat banyak hal lainnya juga diperlukan, seperti perawat, pembersih bangsal, dokter, dan tenaga kesehatan. Saya melihat ini tidak hanya di rumah sakit, tapi juga di pusat layanan komunitas dan pusat penyedia layanan kesehatan utama.

Keterangan gambar,

Program vaksinasi India dimulai pada pertengahan Januari.

Seberapa jauh kemampuan India untuk memvaksinasi warganya?

Yogita Limaye, koresponden BBC India, menjawab:

India telah menyuntikkan kurang dari 150 juta dosis vaksin. Sebagian orang sudah mendapat dua dosis, namun banyak yang divaksinasi sejauh ini baru menerima satu dosis.

Populasi India mencapai 1,3 miliar jiwa. Sehingga diperlukan ratusan juta dosus vaksin untuk menjangkau populasi dalam jumlah signifikan.

Baca juga:

Sejauh ini vaksin tersedia bagi mereka yang berusia di atas 45 tahun. Mulai 1 Mei, vaksin tersebut tersedia untuk semua penduduk di atas usia 18 tahun.

Namun belum jelas cadangan vaksin apa yang dimiliki India saat ini dan seberapa cepat negara itu memvaksinasi rakyatnya.

Keterangan gambar,

Sejumlah rumah sakit di India melaporkan kekurangan tempat tidur, tabung oksigen, dan obat-obatan.

Apa imbas politik bagi pemerintahan Modi atas penanganan krisis ini?

Vikas Pandey, editor urusan India di situs BBC News menjawab:

Terlalu dini untuk menilai imbas politik bagi pemerintahan Modi atau pemerintahan negara bagian. Namun satu yang jelas adalah ada banyak kemarahan rakyat atas gelombang kedua yang melanda kota-kota kecil dan desa-desa.

Seruan warga untuk meminta bantuan tidak hanya datang dari Delhi dan Mumbai, tapi juga daerah pelosok seperti di Uttar Pradesh, West Bengal, Madhya Pradesh, dan Rajasthan.

Ada banyak kemarahan warga terhadap para politikus dan sistem pemerintahan, termasuk para birokrat, pejabat negara, dan pejabat kesehatan.

Apakah varian Covid-19 di India dan Inggris berbeda, dan mengapa banyak yang meninggal dengan cepat?

James Gallagher, koresponden BBC bidang kesehatan dan sains menjawab:

Satu alasan mengapa banyak orang meninggal di India adalah jumlah kasus Covid-19 di sana melampaui kemampuan sejumlah rumah sakit untuk merawat pasien.

Covid mematikan bahkan dengan layanan kesehatan terbaik. Namun, ketika tidak ada cukup dokter dan pasokan oksigen, maka orang-orang yang bisa selamat jika ditangani, akan meninggal.

Varian mungkin punya peranan, namun detilnya relatif sedikit.

Varian B117 (yang pertama kali dideteksi di Inggris) mampu menyebar dengan cepat dan kini varian itu ada di India.

Ada pula varian baru (B1617) yang pertama kali dideteksi di India pada Oktober 2020 lalu. Namun, bagaimana penyebarannya dan seberapa besar peranannya dalam kenaikan kasus, masih diselidiki.

Diproduksi oleh Georgina Rannard, Dhruti Shah, dan Kris Bramwell

Related posts