Covid 19: Turki klaim vaksin Sinovac 91% efektif, jauh lebih baik ketimbang yang dilaporkan Brasil

Sinovac Biotech, vaksin, Covid 19, virus corona, vaksin asal China

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin China, Sinovac Biotech, diklaim 91,25% efektif, menurut hasil awal uji klinis III di Turki

Hasil itu jauh lebih baik ketimbang yang dilaporkan dalam uji coba vaksin yang sama yang dilakukan secara terpisah di Brasil.

Peneliti di Brasil mengklaim vaksin itu “mencapai ambang batas efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih dari 50%, berdasarkan data uji coba yang dirilis Rabu (23/12).

Namun sekali lagi, para peneliti Institut Butantan di Brasil menangguhkan pengumuman hasil pasti tingkat efikasi vaksin atas permintaan perusahaan, yang menimbulkan pertanyaan tentang transparansi pengembangan vaksin tersebut.

Sehari sesudahnya, peneliti di Turki mengatakan tidak ada efek samping parah selama uji coba yang mereka lakukan, kecuali seorang relawan yang mengalami reaksi alergi.

Efek samping yang umum disebabkan oleh vaksin tersebut adalah demam, nyeri ringan dan sedikit kelelahan, kata mereka.

Sebanyak 26 dari 29 orang yang dinyatakan positif virus corona diberi vaksin suntikan hampa (placebo).

Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, mengatakan pemerintah akan menggunakan data itu untuk memberi lisensi pada vaksin tersebut.

“Kami sekarang yakin bahwa vaksin itu efektif dan aman (untuk digunakan) pada orang-orang Turki,” kata Koca, seperti dikuti dari kantor berita Reuters.

Keterangan gambar,

Seorang pria bekerja di laboratorium produsen vaksin China Sinovac Biotech di Beijing.

Ia juga mengatakan bahwa para peneliti awalnya berencana untuk mengumumkan hasil setelah 40 orang terinfeksi, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa para relawan memiliki efek samping yang minimal setelah suntikan vaksin dan karena itu dianggap aman.

“Meski berisiko, kami melihat gambaran yang sangat ringan di mana tiga [hasil tes] PCR [dinyatakan] positif, tanpa demam atau masalah pernapasan… “

“Kami dapat dengan mudah mengatakan bahwa meskipun berisiko, ketiga orang itu mengalaminya dengan [gejala]sangat ringan,” jelas Koca.

Sebelumnya, Sinovac Biotech menunda pengumuman hasil dari uji coba tahap akhir vaksin Covid-19 hingga Januari demi mengkonsolidasikan data yang didapat dari Brasil dengan hasil uji dari Indonesia dan Turki.

Hasil uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac di Indonesia hingga kini belum diumumkan. Ada lebih dari 1.600 relawan yang telah disuntik dengan vaksin Sinovac.

Selain itu ada 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang telah diimpor dan kini disimpan di ruangan penyimpanan Bio Farma, Bandung.

Hasil uji klinis di Brasil

Direktur Institut Butantan di Brasil, Dimas Covas, mengklaim vaksin itu “mencapai ambang batas efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih dari 50%.

“Kami mencapai ambang kemanjuran yang memungkinkan kami untuk mencari persetujuan penggunaan darurat” otorisasi dari badan pengawas [kesehatan] Brasil Anvisa, kata direktur Institut Butantan, Dimas Covas, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Keterangan gambar,

Badan pengawas kesehatan Argentina, Anvisa, menetapkan ambang batas efikasi setidaknya 50% untuk vaksin selama pandemi.

Institut Butantan menolak untuk mengungkap angka pasti dari efikasi vaksin yang mereka uji coba pada 13.000 relawan, dengan alasan terikat kontrak dengan Sinovac.

“Tidak mungkin ada tiga hasil efikasi untuk vaksin yang sama,” kata Covas.

Ia mengatakan penundaan itu tidak ada hubungannya dengan efikasi vaksin, yang diharapkan menjadi salah satu yang pertama disetujui untuk digunakan di Brasil.

Sama dengan WHO, badan pengawas kesehatan Argentina, Anvisa, menetapkan ambang batas efikasi setidaknya 50% untuk vaksin selama pandemi.

Pejabat kesehatan mengatakan hasil uji klinis di Brasil itu menjadi “momen untuk dirayakan”.

“Tujuan kami adalah mencapai lebih dari 50%. Jika jumlahnya 51%, itu akan menjadi penting bagi kami, terutama karena kami hidup di saat krisis kesehatan,” kata pejabat kesehatan Sao Paulo, Jean Gorinchteyn, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.

Menuai pertanyaan tentang transparansi

Direktur Butantan Dimas Covas mengatakan tidak ada relawan yang divaksinasi dalam uji coba di Brasil yang mengalami gejala Covid-19 yang parah.

Menurutnya, hal ini berkontribusi pada optimisme tentang kemanjuran vaksin tersebut.

Pakar imunologi Cristina Bonorino, yang juga anggota komite ilmiah Masyarakat Imunologi Brasil menganggap minimnya kasus yang parah dalam uji klinis “akan sangat berguna untuk memerangi pandemi”.

Namun, penundaan pengumuman hasil uji klinis tahap akhir ini ia sebut “merusak citra vaksin”.

Keterangan gambar,

Paket kandidat vaksin untuk SARS-CoV-2 oleh Sinovac Biotech yang ditampilkan oleh perusahaan di Beijing, Cina, 24 September 2020.

“Mereka seharusnya tidak menunjukkan sesuatu yang pada akhirnya tidak mereka laporkan. Itu masalah yang lebih besar,”

Brasil adalah negara pertama yang menyelesaikan uji coba tahap akhir vaksin Sinovac yang disebut CoronaVac, tetapi pengumuman hasilnya, yang mulanya dijadwalkan pada awal Desember, telah ditunda tiga kali.

Penundaan terbaru merupakan pukulan bagi Beijing, yang terus berlomba untuk mengejar ketertinggalan dari produsen vaksin rivalnya dan akan menambah kecaman bahwa pembuat vaksin dari China kurang transparan.

Hal ini juga kemungkinan akan meningkatkan skeptisisme terhadap vaksin China di Brasil.

Presiden Jair Bolsonaro, seseorang yang skeptis akan virus corona yang mengatakan dia tidak akan menerima vaksin Covid-19, telah berulang kali mempertanyakan vaksin China berdasarkan “asal-usulnya”.

Sebuah jajak pendapat awal bulan ini menunjukkan bahwa setengah dari warga Brasil menolaknya.

Hasil positif para rival

Sinovac menjadi produsen vaksin China kedua yang mengumumkan hasil dari uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya, Uni Emirat Arab mengumumkan vaksin dari perusahaan vaksin China, National Pharmaceutical Group (Sinopharm) yang berbasis di Beijing, memiliki kemanjuran 86%.

Vaksin saingan yang dikembangkan oleh AstraZeneca, Pfizer dan Moderna juga telah membuahkan hasil yang positif.

Vaksin Pfizer, yang dikembangkan dengan mitra dari Jerman, BioNTech, adalah vaksin Covid-19 pertama yang sepenuhnya teruji, dengan vaksinasi yang sudah dimulai di Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.

China telah memberikan vaksin virus corona eksperimental, termasuk suntikan yang dikembangkan oleh Sinovac, kepada kelompok berisiko tinggi di negara itu sejak Juli di bawah program penggunaan darurat.

Sinovac telah mendapatkan kesepakatan pasokan untuk vaksinnya dengan beberapa negara termasuk Indonesia, Turki, Brasil, Chili dan Singapura, dan sedang mengadakan pembicaraan dengan Filipina dan Malaysia untuk potensi penjualan.

Related posts