Olimpiade Tokyo 2020: Apa langkah Jepang dan bagaimana dengan kontingen Indonesia?

  • Reality Check team
  • BBC News

praveen melati

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva akan mewakili Indonesia dalam cabang olahraga badminton di Olimpiade Tokyo 2020.

Menjelang Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, para ahli medis telah mewanti-wanti tentang kemungkinan penyebaran Covid-19.

Olimpiade dimulai pada 23 Juli dan penyelenggara mengatakan hingga 10.000 warga setempat akan diizinkan menonton acara itu seacara langsung.

Adapun Paralimpiade dimulai pada 24 Agustus, dengan jumlah penonton yang akan dikonfirmasi pada 16 Juli.

Bagaimana langkah persiapan Jepang? Lantas apakah Indonesia tetap mengirimkan kontingen ke Jepang?

Bagaimana situasi infeksi Covid-19 di Jepang?

Sekitar 1.400 kasus baru dilaporkan setiap hari, tetapi jumlah kasus telah turun dari puncaknya, yakni lebih dari 6.000 kasus pada pertengahan Mei.

Para ahli mengatakan tingkat kasus harian di kota tuan rumah Tokyo harus turun di bawah 100 kasus agar penyelenggaraan Olimpiade bisa berjalan aman.

Pada 21 Juni, otoritas kesehatan kota melaporkan 236 kasus baru, dengan rata-rata hanya di bawah 400 kasus baru sehari selama tujuh hari terakhir.

Penurunan tajam dari pertengahan Mei kini telah mendatar, sebagaimana dengan gambaran nasional.

Pada puncak penularan pada bulan Mei, rumah sakit di banyak daerah kewalahan sehingga dengan sebagian besar Jepang dalam keadaan darurat. Hal ini membuat otoritas melakukan kebijakan pembatasan.

Dalam pelaksanaan Olimpiade, akan diberlakukan kebijakan khusus di Tokyo, seperti pembatasan operasional bar.

Berapa orang yang sudah divaksinasi?

Kampanye vaksinasi massal diluncurkan di dua kota terbesar, Tokyo dan Osaka, ketika infeksi meningkat.

Tetapi sampai saat ini, hanya sekitar 16% dari negara yang telah divaksinasi.

Itu kira-kira proporsi yang sama dengan warga yang mendapat satu dosis di India.

Keterangan gambar,

Tim Uganda telah tiba di Tokyo tetapi salah satu tim harus dikarantina setelah dinyatakan positif Covid

Lebih dari setengah populasi Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman telah mendapat satu dosis vaksin.

Jepang baru mulai memvaksinasi orang pada bulan Februari, lebih lambat dari kebanyakan negara maju lainnya.

Vaksin Pfizer, selama beberapa bulan, adalah satu-satunya vaksin yang disetujui di Jepang.

Proses ini memakan waktu lebih lama karena Jepang bersikeras melakukan uji coba sendiri di samping tes yang dilakukan secara internasional.

Keterangan gambar,

Ada sejumlah hambatan dalam program vaksinasi Jepang

Para pejabat mengatakan hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan warga pada vaksin, menurut pemberitaan surat kabar Asahi Shimbun.

Kekhawatiran seputar efek samping vaksin telah berkontribusi pada keraguan terhadap vaksinasi di masa lalu.

Sebuah kajian yang dilakoni Imperial College London terhadap 15 negara menemukan bahwa Jepang memiliki tingkat kepercayaan terendah terhadap vaksin virus corona.

Peluncuran vaksin juga terhambat karena kurangnya pasokan dan hambatan logistik.

Hukum Jepang hanya mengizinkan dokter dan perawat untuk melakukan vaksinasi, tetapi aturan tersebut sekarang telah dilonggarkan untuk memungkinkan dokter gigi hingga paramedis mendukung upaya vaksinasi.

Sejak awal bulan, jumlah suntikan harian meningkat hampir dua kali lipat – pertanda bahwa pendekatan baru tampaknya berhasil.

Jepang dilaporkan telah mendapatkan lebih dari 300 juta dosis suntikan Pfizer, AstraZeneca dan Moderna (mereka menyetujui produksi dan penggunaan AstraZeneca dan Moderna pada bulan Mei), yang akan cukup untuk memvaksinasi seluruh penduduk.

Langkah apa lagi yang diambil Jepang?

Jepang -tak seperti banyak negara lainnya- tidak menerapkan kebijakan lockdown yang ketat atau menutup perbatasannya secara keseluruhan sejak pandemi terjadi tahun lalu.

Keterangan gambar,

Arak obor Olimpiade dimulai pada bulan Maret

Pada April 2020, pemerintah memberlakukan keadaan darurat, meskipun pedoman tinggal di rumah bersifat sukarela.

Bisnis yang tidak penting diminta untuk tutup, tetapi tidak akan kena sanksi jika tidak mematuhinya.

Pembatasan masuk diberlakukan untuk beberapa negara.

Meskipun memiliki populasi lansia yang besar dan pusat kota yang padat penduduk, Jepang terbukti relatif berhasil dalam mengendalikan virus di awal dan menghindari tingkat kematian yang tinggi.

Ada beberapa teori yang menjawab mengapa hal ini bisa terjadi, antara lain:

  • kepatuhan publik yang tinggi terhadap protokol kesehatan seperti penggunaan masker
  • kontak fisik yang dekat seperti berpelukan dan berciuman umumnya dihindari
  • tingkat penyakit kronis yang lebih rendah seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes
Keterangan gambar,

Warga Jepang patuh memakai masker

Namun, ada peningkatan kasus sepanjang tahun 2020 dan secara nasional, jumlah kasus meningkat tajam di akhir tahun dan mencapai puncaknya pada Januari 2021.

Pada saat itu, pemerintah menghadapi kritik atas kampanye perjalanan domestik demi meningkatkan perekonomian.

Keadaan darurat diumumkan di Tokyo dan sembilan wilayah lainnya ketika jumlah kasus mulai meningkat pada bulan April.

Apa langkah Indonesia?

Jumlah kasus penularan covid di Tokyo masih relatif tinggi walau belakangan ini sudah menurun, Indonesia tetap mempersiapkan kontingennya ke pesta olahraga terbesar sedunia itu, seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia, Ferry Kono.

“Sementara ini kita masih tetap on schedule. Semua atlet kita sudah divaksin. Kita juga melakukan monitoring atas aktivitas mereka selama empat minggu sebelum keberangkatan. Dan ini semua memenuhi protokol yang sudah ditetapkan melalui guide book yang kami terima,” kata Ferry kepada BBC News Indonesia Selasa (22/06).

Keberangkatan kontingen Indonesia akan dibagi dalam empat kloter. Kloter pertama tanggal 8 Juli adalah tim badminton yang akan menjalani training camp di Kumamoto.

“Kloter berikut pada tanggal 18 (Juli) dari Jakarta adalah rombongan besar selain tim badminton. Lalu ada lagi tanggal 21 dan tanggal 25 Juli,” ujarnya.

Setidaknya ada delapan cabang olahraga yang sudah disiapkan kontingen Indonesia untuk berlaga di Olimpiade Tokyo, yaitu angkat besi (lima atlet), atletik (dua atlet), badminton (11 atlet), menembak (satu atlet), panahan (empat atlet), mendayung (dua atlet), selancar ombak (satu atlet dengan disiapkan satu atlet cadangan), dan renang (dua atlet).

Sedangkan untuk cabang senang dan voli pantai, lanjut Ferry, pihaknya masih menunggu hasil kualifikasi.

Related posts